<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515</id><updated>2011-08-15T09:39:29.260-07:00</updated><title type='text'>Na..na..na..na..</title><subtitle type='html'>Sebuah Catatan...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-8128879028539580410</id><published>2009-07-23T00:16:00.000-07:00</published><updated>2009-07-23T00:24:03.795-07:00</updated><title type='text'>Kenapa Syekh Puji?</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kamis, 23 Juli 2009 02.15 WIB&lt;br /&gt;Sedang menonton Reportase Malam Trans TV soal visum Lutfiana Ulfa, istri muda Syekh Puji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak paham, kenapa polisi getol mengusut kasus Syekh Puji yang menikahi bocah di bawah umur. Padahal kasus serupa juga banyak terjadi di daerah lain. Tapi toh reaksinya tidak serupa. Di Madura ada kakek yang dengan bangga memperkenalkan 10 istrinya. Sebagian juga dinikahi saat masih kanak-kanak. Meski sudah diekspos media, toh polisi tidak lantas mengusutnya. Ya barangkali sudah terlanjur, jadi hoream mau mengusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya, kasus Syekh Puji lebih kental mengupas sensasi miliuner nyentrik itu ketimbang menjelentrehkan kenapa kasus ini dianggap penting untuk dituntaskan. Seingat saya, hanya Kompas yang tidak tertarik dengan berbagai sensasi yang dibuat Syekh Puji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga tidak paham apa yang dibela dari kasus ini. Toh Lutfiana Ulfa, istri belia Syekh Puji sepertinya tak menginginkan pembelaan itu. Dia mengaku bahagia dan mencintai laki-laki yang usianya lebih tua dari usia bapaknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang benar demikian, maka urusannya hati. Hukum tidak akan cukup bisa menghentikan rasa cinta yang memang bisa menyerang siapa saja, tanpa memandang usia. Hemat saya, biarkan saja! Toh suka sama suka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang perlu diusut, menurut saya, jika ada unsur penipuan pada saat proses pernikahan itu. Misalnya pemalsuan surat nikahnya, pemalsuan umur dsb. Tapi pernikahan itu katanya hanya nikah siri. Lalu apa yang dipersoalkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah kalau saya, saya justru ingin tahu motif pemilihan gadis cilik itu menerima pinangan sang saudagar itu. Menurut tayangan salah satu tv swasta, proses pemilihan istri muda itu dilakukan melalui audisi. Kesimpulan saya, berarti hubungan itu tidak alamiah. Meskipun bisa saja rasa suka itu sudah tumbuh sebelum audisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu SD, saya lebih asik main sepeda atau main petak umpet dari pada berpikir menikah. Tapi kenapa justru Ulfa punya keberanian memutuskan untuk menikah? Keberanian itu bahkan baru menghampiri saya sekitar setahun belakangan. Ko bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa mungkin karena harta kekayaan Syekh Puji yang membuat tak kuasa menolak tawaran itu? Kalau melihat gaya hidup modern yang semakin konsumtif, bisa jadi memberikan kenginan-keinginan tertentu. Ingin punya hp, ingin naik mobil bagus, beli mainan banyak, pakai baju bagus dsb. Barangkali untuk membuktikannya perlu studi panjang, tentang latar belakang kehidupan keluarga dan masyarakatnya. Kalau membuat liputan semacam ini, wah bisa nggak keburu nih sama dedlen, dewa yg ditakuti jurnalis di jagad raya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi barangkali, perlu ada sebuah misi dibalik pemberitaan. Tidak sekedar melaporkan. Karena justru beritanya berasa hambar, seperti tidak ada ruh yang membuatnya bernyawa. Akhirnya cukup saja dengan berita sensasional itu... Tidak peduli apakah setelah ini masyarakat akan lebih pintar atau tidak. Toh berita apapun yang dibuat akan tetap ditonton bukan?!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-8128879028539580410?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/8128879028539580410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2009/07/kenapa-syekh-puji.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/8128879028539580410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/8128879028539580410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2009/07/kenapa-syekh-puji.html' title='Kenapa Syekh Puji?'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-6131403241286716071</id><published>2009-07-20T07:17:00.000-07:00</published><updated>2009-07-20T07:18:38.802-07:00</updated><title type='text'>Jalan Ke Sana</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dear Friends, kmrn lamaranku :-). Feels funnya.he2. Hari H nya insyaAllah 5 Desember malem ya, di Taman Indie, Araya. Please do take time to come kalo nggak sibuk :-)"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam lalu, saya menerimu SMS itu dari sahabat waktu SMA.&lt;br /&gt;Merinding...&lt;br /&gt;Entah kenapa, setiap kali menerima kabar pernikahan... ada yang berdesir aneh... ada ketakutan yang menyergap tiba-tiba...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ini, saya dan sahabat saya itu sering berbincang tentang banyak hal. Tentang cita-cita, karir, sosial, politik, ah semuanya.. termasuk urusan cinta-cintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, kami membicarakan laki-laki sambil tertawa-tawa...&lt;br /&gt;Seringkali menertawakan cara-cara bodoh lelaki demi mendapatkan pacar.&lt;br /&gt;Beranjak dewasa...&lt;br /&gt;Kami masih juga sering menertawakan laki-laki. Waktu itu, kami sering menertawakan kebodohan berpikir mereka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan...&lt;br /&gt;Usia kami tak lagi belasan.&lt;br /&gt;Dua dasawarsa lebih, kata orang sudah siap menikah.&lt;br /&gt;Saat itu pun, kami masih sempat tertawa kecil... melihat teman-teman yang tergesa-gesa ingin menikah.&lt;br /&gt;Melihat ibu-ibu kami yang mulai menanyakan soal pasangan hidup...&lt;br /&gt;Toh kami masih bisa menanggapi dengan tertawa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suatu saat kita akan sampai di sana," kata sahabat saya setiap kali kami membicarakan teman yang baru saja menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dia yang sampai di sana terlebih dahulu...&lt;br /&gt;Dia berhasil menemukan jalan dan melewatinya dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku tercekat...&lt;br /&gt;Aku tidak bisa tertawa lagi...&lt;br /&gt;Bahkan sebuah tawa kecil tak lagi bisa kulakukan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja aku berbahagia untukmu kawan...&lt;br /&gt;Segala doa terbaik kupanjatkan untukmu.&lt;br /&gt;Meski setelah ini tak bisa lagi kita menertawai banyak hal lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku siap berlari untuk sampai ke sana. Tapi belum kutemukan jalan untuk menuju ke sana...&lt;br /&gt;Dengan semua niat baik dan semua perbedaan ini...&lt;br /&gt;Apakah aku akan sampai ke sana?&lt;br /&gt;YA! Aku akan sampai ke sana...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-6131403241286716071?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/6131403241286716071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2009/07/jalan-ke-sana.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/6131403241286716071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/6131403241286716071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2009/07/jalan-ke-sana.html' title='Jalan Ke Sana'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-7577632191892756051</id><published>2009-07-20T06:50:00.001-07:00</published><updated>2009-07-20T06:50:46.652-07:00</updated><title type='text'>Teror itu datang lagi...</title><content type='html'>Media mulai mencoba merekonstruksi peristiwa yang meluluhlantakkan JW Marriot dan Ritz Carlton Hotel Jakarta. Sebagian menuding ini masih kelompok yang sama dengan ledakan-ledakan bom sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemh...&lt;br /&gt;Pelaku yang sudah-sudah mengaku semua itu lantaran berjihad.&lt;br /&gt;Aaaaahhhh aku ngilu mendengarnya...&lt;br /&gt;Apa Allah menginginkan dibela dengan cara ini?&lt;br /&gt;Apa Allah meridoi cara-cara itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku tidak... &lt;br /&gt;Tuhan tidak butuh dibela semacam itu...&lt;br /&gt;Ia Maha Besar, Maha Segala-galanya...&lt;br /&gt;Tidak perlu ada pembelaan semacam itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya mereka tahu,&lt;br /&gt;mereka membunuh saudaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat diskusi dengan seseorang, "Begitulah jika agama dipahami sebagai sesuatu yang normatif," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya kita mengenali Tuhan dengan baik...&lt;br /&gt;Bukan sekedar soal dosa dan pahala, surga dan neraka, haram atau halal.&lt;br /&gt;Begitulah semua perilaku didasarkan...&lt;br /&gt;Padahal, Tuhan akan sangat marah ketika kita tidak berbuat baik pada sesama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau beragama menimbulkan kebencian, lalu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-7577632191892756051?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/7577632191892756051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2009/07/teror-itu-datang-lagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/7577632191892756051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/7577632191892756051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2009/07/teror-itu-datang-lagi.html' title='Teror itu datang lagi...'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-5359047959814886874</id><published>2009-05-19T08:03:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T08:04:57.437-07:00</updated><title type='text'>Kelom Geulis “Keng”, Tenggelamnya Sang Primadona</title><content type='html'>Bukan celana jins ketat atau baju minim yang menjadi resep pesona mojang Bandung tempo dulu. Pada banyak kesempatan, mojang Bandung seringkali mengenakan kain wiron yang dipadu dengan baju kebaya lengkap dengan kelom geulisnya. Di jalanan Kota Bandung, para lelaki saat itu banyak yang terpikat melihat dandanan anggun macam itu. Membuat mereka semakin penasaran melihat paras ayu yang tersembunyi di balik payung kertas buatan Tasik yang berwarna-warni tak kalah cantik dengan si empunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dulu, sekitar dekade ‘60-an. Sekarang sudah jadi pakaian langka. Paling-paling hanya dipakai waktu peringatan Hari Kartini atau acara-acara tertentu saja. Mojang Bandung sekarang tentu lebih akrab dengan celana jins daripada kain. Kain identik dengan pakaian yang membatasi gerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun dengan kelom geulis. Masa keemasannya telah berlalu, digantikan dengan sandal plastik atau kulit imitasi yang membanjiri pasaran. Selera pasar perlahan menenggelamkan kelom geulis yang konon berasal dari Tasikmalaya itu.&lt;br /&gt;Namun, jika masih ada yang penasaran atau ingin mencoba mengenakan kelom geulis, datang saja ke Jln. Cihampelas no 205. Bangunan lawas nan sederhana itu seringkali terlewatkan. Maklum, letaknya berada di salah satu kawasan belanja yang populer di kota kembang yang selalu padat dikunjungi wisatawan. Sayangnya, keramaian Cihampelas hanya dipandang sebagai pusat jins dan pakaian jadi buatan Bandung. Padahal di kawasan itu terdapat, warisan budaya yang barangkali tinggal satu-satunya. Kelom geulis “Keng”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat sore, Bandung sudah mulai padat. Keramaian selalu menyergap di akhir pekan. Tapi, pelataran parkir Kelom Geulis “Keng” tetap sepi. Tidak ada mobil ataupun sepeda motor yang diparkir di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki bangunan itu, terdapat etalase kaca yang membagi dua ruang toko itu. Menjadi pembatas antara penjual dan pembeli. Separuh dinding di ruangan itu dipasangi rak kayu. Selain di etalase kaca tadi, di rak itu dipajang bermacam-macam kelom geulis “Keng” yang legendaris itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi lain, dindingnya dipasangi kaca berukuran besar. Barangkali, pada saat kelom geulis menjadi tren, sudah ratusan bahkan ribuan orang yang mematut diri di depan kaca itu. Mencari kelom geulis “Keng” yang cocok untuk dirinya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Seorang lelaki berbadan tegap keluar dari ruangan lain. Langkahnya pelan. Ia mendekat sambil mengulas senyum. “Yah sekarang asal ada saja. Meskipun sulit, tapi mencoba terus bertahan, jangan sampai kelom geulis ini hilang,” tuturnya.&lt;br /&gt;Nama lelaki itu Yamin Teramurni. Kini usianya 61 tahun. Ia adalah generasi ketiga kelom geulis “Keng”. Usaha ini ia warisi dari sang kakek, Thio Keng Siang yang asal Tasikmalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yamin, kakeknya berasal dari golongan Kongku. Yaitu golongan orang Tionghoa yang dipercaya berbakat di bidang perkayuan. Sehingga bisnis yang menggunakan elemen kayu akan membawa keuntungan. &lt;br /&gt;Pada tahun 1942, Keng pindah ke Bandung. Membuka toko kelom geulis di daerah pecinan, tidak jauh dari Toko Kopi Aroma. Selain sebagai toko, di sana juga digunakan untuk tempat berproduksi. Tak tanggung-tanggung, perajin kelom geulisnya mencapai seratus orang. Konon, saking banyaknya permintaan, proses produksi juga dilakukan di Tasikmalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelom berasal dari kata kelompen, bahasa Belanda yang berarti sandal kayu. Embel-embel geulis di belakangnya karena kelom ini dihiasi dengan ukiran cantik yang menjadi ciri khasnya. Kebanyakan ukirannya bergambar bunga. Sebagian dicat warna-warni. Tapi ada pula yang diwarna coklat, tidak jauh dari warna asli kayu yang menjadi bahan dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perajinnya adalah seorang Tionghoa, maka tidak bisa lepas dari kebudayaan asalnya. Pada mulanya ukiran pada kelom itu banyak mengadopsi kebudayaan Tionghoa. Misalnya dengan memasang ukiran bergambar liong (naga) atau juga bentuk-bentuk yang kerap ditemukan pada ornamen klenteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan talinya digunakan berbagai macam bahan dan aplikasinya. Seperti bludru yang diaplikasi dengan payet. Ada juga yang terbuat dari kulit. “Tapi apapun bahannya, selalu di dalamnya diselipkan kulit,” ujar Yamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelomnya sendiri terbuat dari kayu mahoni. Dulu yang digunakan kayu abasia. Tapi sekarang mencari abasia terbilang sulit. Apalgi yang berumur tua. Baru berumur enam tahun sudah ditebangi untuk keperluan industri dan sebagainya. Padahal, untuk membuat kelom sebaiknya kayu tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayu-kayu juga banyak yang diekspor, sehingga harga di dalam negeri menjadi melambung. Akhirnya, bahan diganti dengan kayu mahoni.&lt;br /&gt;Daya tarik kelom ini bukan hanya bentuknya yang cantik, tetapi juga kenyamanannya. Bahan kayu membuat kaki tidak panas. Bahkan kaki yang pecah-pecah bisa sembuh dengan menggunakan alas kaki kayu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman dulu, pengusaha kelom geulis di Kota Bandung cukup banyak. Setidaknya terdapat tiga toko yang terkenal dengan kelom geulisnya, yaitu Toko Swan, Toko Kabinangkitan dan Keng. Hanya Keng yang hingga hari ini masih buka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yamin, kelom buatan Keng terkenal dengan kualitasnya yang bagus, pembuatannya halus. “Pembeli dijamin puas,” ujar Yamin. Tak heran kalau pada masa kejayaannya, kelom buatan Keng begitu digandrungi. Apalagi, pembeli bisa memilih model ukiran dan tali sesuka hati. Tinggal dipasang saja. Pembeli bisa menunggunya. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kini kelom geulis sudah tidak lagi menjadi primadona. Pembelinya sekarang tinggal orang-orang tua yang sudah terbiasa memakai kelom sejak dulu. Sangat sedikit, bahkan nyaris tidak ada anak muda yang menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yamin sendiri serba susah. Mau berpromosi, tak ada daya. Yang bisa ia lakukan adalah menjajakan kelom yang saat ini sudah ada. Ia tak lagi berproduksi. Tak ada satu karyawan pun yang membantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga belum tahu pada siapa usaha itu akan diwariskan. Kedua anaknya kini masih menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. “Ya harapannya anak saya bisa meneruskan. Kalau lihat sekolahnya di desain, ya semoga nanti bisa membuat model-model baru untuk mengembangkannya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski gurat-gurat usia mulai memenuhi wajahnya, Yamin bertekad tetap melanjutkan warisan keluarganya. Senyumnya selalu mengembang tat kala pembeli datang, meski pada akhirnya pergi tanpa membeli kelomnya. Ia masih menyimpan harap, suatu saat kelom geulis akan berjaya kembali. (Catur Ratna Wulandari/”PR”)***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Artikel ini pernah diterbitkan di Harian Pikiran Rakyat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-5359047959814886874?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/5359047959814886874/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2009/05/kelom-geulis-keng-tenggelamnya-sang.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/5359047959814886874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/5359047959814886874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2009/05/kelom-geulis-keng-tenggelamnya-sang.html' title='Kelom Geulis “Keng”, Tenggelamnya Sang Primadona'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-1686891843535353664</id><published>2009-05-19T08:00:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T08:01:01.200-07:00</updated><title type='text'>Terus Ke Mana?</title><content type='html'>“Yang namanya Terusan harusnya ya tidak jauh-jauh dari jalan induknya. Ternyata saya salah. Yang namanya Terusan Karang Tineung tidak seperti Terusan Pasteur yang meneruskan Jalan Pasteur atau Terusan Pasir Koja yang melanjutkan Pasir Koja. Terusan Karang Tineung menurut saya lebih tepat sebagai terusan Jalan Suka-Mulya-Sebelah-Sanaan-Setra Sari-dan Sebelah-Sanaan-lagi-Cipedes Tengah-dan-Tidak-Terlalu-Jauh-Dari-Paris-Van-Java-ternyata. Ya memang sih daerah situ-situ juga, paling tidak mungkin satu kecamatan lah. Tapi kalau disebut terusan, ya nyambungnya dari mana? ujung-ujung jalan tersebut kan tidak ketemuan dengan Jalan Karang Tineung. Sudah gitu rumah-rumahnya nomornya tidak urutan pula. Untung rumahnya gede-gede”&lt;br /&gt;Demikian tulis seorang blogger yang menceritakan pengalamannya tersesat saat mencari Jalan Terusan Karang Tineung. Kota Bandung merupakan salah satu kota yang mempunyai cukup banyak nama jalan yang menggunakan “Terusan”, misalnya saja Jln. Terusan Jakarta, Jln. Terusan Buah Batu, Jln. Terusan Ciliwung, Jln. Terusan Pasir Koja dan sebagainya.&lt;br /&gt;Penggunaan istilah “Terusan” itu berarti jalan tersebut meneruskan jalan sebelumnya. “Jalan itu tidak punya nama, hanya meneruskan jalan yang sebelumnya,” ujar penulis sekaligus kolektor buku Sudarsono Katam, saat ditemui di kediamannya, Jln. Tanjung Kota Bandung, Kamis (29/1).&lt;br /&gt;Ia menjelaskan, jalan-jalan yang menggunakan nama terusan merupakan jalan-jalan baru. Sekitar tahun 1970 banyak dibangun jalan-jalan baru yang bersambung dengan jalan-jalan yang sudah lama. “Masyarakat menyebutnya dengan terusan karena memang meneruskan jalan yang sudah ada. Jadi dia tidak punya nama sendiri,” katanya.&lt;br /&gt;Rupanya meneruskan jalan yang sudah ada menjadi populer. Lebih praktis memang, karena tinggal meneruskan saja. Tapi seiring perkembangan tata kota yang semakin berkembang, jalan semakin panjang. Jalan terusannnya bisa lebih panjang dari jalan induknya. Tidak heran kalau ada anekdot Jalan Terusan Jakarta adalah jalan terpanjang di Kota Bandung karena terusannya saja sudah sedemikian panjang apalagi jalan induknya. Mengapa jalan-jalan tersebut tidak diberi nama sendiri saja?&lt;br /&gt;Planolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Iwan Kustiwan mengatakan, penggunaan terusan sebenarnya tidak menjadi masalah selama memang digunakan untuk meneruskan jalan utama. Namun menjadi persoalan ketika penggunaan terusan justru membuat bingung dan menyulitkan. Apalagi jika jalan terusan ini sangat panjang. “Sebaiknya diberi nama saja, sebab kalau tidak fungsi jalan sebagai penanda akan hilang,” ujarnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Selain jalan yang tidak bernama, di Kota Bandung juga banyak ditemukan rumah tanpa nomor. Misalnya saja Jalan Kopo nomor 191 belakang. Maksudnya, letak rumah tersebut berada di belakang bangunan nomor 191.&lt;br /&gt;Sudarsono menjelaskan, kesemrawutan nomor rumah sudah terjadi sudah lama. Dahulu, bangunan rumah tidak dibangun bersama-sama. Sehingga penomoran menjadi kacau ketika ada bangunan baru yang muncul di antara bangunan lama yang sudah mempunyai nomor urut. “Tapi itu dulu, sekarang sih sudah lebih rapi. Kalau di pinggir jalan sudah tidak ada nomor yang tidak urut,” katanya.&lt;br /&gt;Lahirnya nomor rumah yang menggunakan istilah “belakang”, menurut Sudarsono, disebabkan karena adanya peningkatan kebutuhan berkomunikasi, utamanya melalui surat. “Jadi untuk memudahkan orang mencapai rumah itu akhirnya ada nomor belakang,” katanya.&lt;br /&gt;Ada juga alamat rumah yang di belakang nomor ditambahi pav atau paviliun. Biasanya digunakan untuk rumah yang terbagi menjadi dua bagian dengan kepemilikan yang berbeda. Sehingga untuk membedakan diberilah tambahan paviliun di belakangnya.&lt;br /&gt;Penomoran rumah yang tidak rapi itu membuat petugas pengantar surat kesulitan. “Cukup menyulitkan kami. Misalnya di Jalan Lingkar Selatan dan Soekarno Hatta. Nomornya ada yang tidak urut. Beberapa jalan juga ada nomor yang dobel. Tapi karena kebiasaan, lama-kelamaan petugas kami jadi hapal,” kata Ahyadi Kosasih, Kepala Bagian Antaran Mail Processing Centre Bandung PT Pos Indonesia.&lt;br /&gt;Menurut Iwan, pengaturan nomor sebaiknya dilakukan sejak awal ketika dikembangkan sebuah kawasan baru. Sehingga sejak awal sudah ada sistem penamaan jalan, penomoran yang lengkap dan sistematis.&lt;br /&gt;“Seringkali penamaan jalan di kawasan baru ketika diintegrasikan dengan jalan yang sudah ada menjadi persoalan karena tidak sesuai. Oleh karenanya dari awal memang harus sudah dipikirkan benar masalah penamaan dan penomoran itu,” tuturnya.&lt;br /&gt;Iwan berpendapat kesemrawutan ini masih bisa dibenahi. Seperti halnya pengaturan jalan yang pernah dilakukan di Arcamanik dan Margahayu yang merubah sistem blok menjadi nama jalan. “Untuk merapikan penomoran, mestinya pemerintah bisa melakukannya secara berkala. Pemerintah bisa memanfaatkan kegiatan sensus penduduk yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali itu,” tuturnya.&lt;br /&gt;Ia menambahkan, penomoran yang rapi akan menguntungkan pemerintah pula. Misalnya dalam hal pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Perhitungannya akan lebih pasti karena persil rumahnya sesuai dengan yang alamat yang tertera.&lt;br /&gt;Sementara itu, Sudarsono Katam mengusulkan agar pemerintah memberi batasan kepada para pengembang perumahan agar tidak memberi nama jalan dengan nama sembarangan. “Banyak pengembang yang memberi nama jalan sesuai dengan nama pengembangnya. Itu jangan boleh. Nama jalan harus diatur, sehingga dia tetap punya zonasi,” katanya. (Catur Ratna Wulandari/”PR”)***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Artikel ini pernah diterbitkan di Harian Pikiran Rakyat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-1686891843535353664?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/1686891843535353664/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2009/05/terus-ke-mana.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/1686891843535353664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/1686891843535353664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2009/05/terus-ke-mana.html' title='Terus Ke Mana?'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-2105946721932190969</id><published>2009-05-19T07:52:00.001-07:00</published><updated>2009-05-19T07:55:03.909-07:00</updated><title type='text'>Saat Cinta Mempertemukan Jefry dan Nancy</title><content type='html'>Pasangan yang sedang dimabuk asmara itu duduk berdampingan. Sesekali saling pandang lalu berpelukan. Beberapa saat kemudian mereka berayun bersama. Owa Jawa berusia sepuluh tahun itu, mulanya tidak saling kenal. Masing-masing terpenjara dalam keegoisan manusia yang mengurungnya di kandang. Setelah berkumpul selama dua tahun, keduanya salingjatuh cinta. Sejak 2006 mereka resmi berpasangan. Kini, keduanya telah menjadi teman hidup yang siap dilepaskan kembali ke habitatnya.&lt;br /&gt;Perjodohan antara Jefry dan Nancy bermula ketika keduanya diserahkan ke Javan Gibbon Centre (JGC), sebuah pusat penyelamatan dan rehabilitasi Owa Jawa yang berkedudukan di Bodogol, Kab. Bogor, bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Jefry sebelumnya dipelihara oleh seseorang di Jakarta. Pada 2003, ia diserahkan pemiliknya ke JGC untuk direhabilitasi. Setahun kemudian, Nancy yang dipelihara oleh keluarga yang berlokasi di Depok turut diserahkan ke JGC.&lt;br /&gt;Rehabilitasi bertujuan untuk mengembalikan kondisi fisik, kesehatan, dan perilaku Owa Jawa bekas peliharaan. Saat ini JGC menampung 27 Owa Jawa (14 betina dan 13 jantan) hasil sitaan dan serahan sukarela dari masyarakat.&lt;br /&gt;Selain memulihkan kesehatan dan perilaku, Owa Jawa juga melalui proses perjodohan pada saat rehabilitasi. Owa Jawa yang hidup di alam sebenarnya memiliki kemampuan alami untuk mencari pasangan hidup. Namun bagi Owa Jawa yang sejak kecil dipelihara manusia, mereka kehilangan kemampuan itu. Sehingga untuk mendapatkan pasangan, mereka harus melalui proses perjodohan. “Melepas Owa Jawa ke alam harus berpasangan. Itu hukumnya wajib. Itu yang membedakan Owa Jawa dengan primata yang lain. Jenis lain bisa hidup sendiri di alam, tapi tidak dengan Owa Jawa. Mereka hidup berkeluarga, suami istri dengan dua atau tiga anak,” tutur Anton Ario, manajer JGC.&lt;br /&gt;Menurut Anton, melepas Owa Jawa ke alam tanpa pasangannya sama dengan tidak bertanggung jawab. Ia tidak akan bertahan hidup tanpa pasangannya. Owa Jawa menganut monogami, tidak mudah menemukan dan berganti pasangan. Jika ia dilepas tanpa pasangan, ia juga tidak akan sanggup bereproduksi.&lt;br /&gt;“Menjodohkan Owa itu tantangan tersendiri. Mereka yang hidup sebagai hewan peliharaan biasanya tidak mengenal lawan jenis. Jadi cukup sulit memasangkannya. Ada yang butuh waktu cepat, ada yang butuh waktu sangat lama,” tutur Anton, sang mak comblang. Jefry dan Nancy butuh waktu dua tahun untuk bisa menjadi pasangan. Tapi ada juga yang butuh waktu seminggu.&lt;br /&gt;Tak ubahnya seperti manusia, perjodohan hanya bisa terjadi jika ada kecocokan dan ketertarikan. Karakter masing-masing sangat mempengaruhi. Jika kecocokan itu bisa terjalin, tidak mustahil perjodohan itu bisa terjadi hanya dalam waktu satu minggu. “Seperti Charli dan Dina, seminggu sudah berjodoh. Karena Charli itu sifatnya cool, sedangkan si Dina ini tidak neko-neko. Jadi keduanya pas. Dina itu punya kebiasaan memakan rambutnya sendiri, itu membahayakan bagi kesehatannya. Maka saya pikir, dia harus segera dapat jodoh. Supaya dia punya kesibukan, dan menghentikan kebiasaannya itu. Jadi tepat kalau dia berjodoh dengan Charli,” tutur Anton.&lt;br /&gt;Mengenali sifat dan karakter masing-masing Owa Jawa yang dirawat merupakan keharusan bagi Anton dan empat orang perawat hewan (keeper). Pengenalan penting untuk menentukan pasangan bagi Owa Jawa.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Proses perjodohan Jefry dan Nancy diawali dengan proses perkenalan yang berlangsung dalam sebuah kandang. Namun keduanya dipisahkan oleh dua sekat kawat yang membentuk lorong. Untuk mengetahui apakah keduanya mempunyai ketertarikan, maka salah satu sekat itu dibuka sehingga keduanya bisa saling mendekat.&lt;br /&gt;“Mendekat itu belum tentu saling suka juga. Bisa juga benci. Biasanya kalau benci mereka saling serang, menunjukkan kemarahan. Kalau begitu, harus berpikir ulang. Biasanya dengan mengganti pasangannya. Tapi kalau suka, biasanya jari-jemari mereka saling bersentuhan walaupun masih ada satu sekat yang memisahkan,” tutur Anton.&lt;br /&gt;Setelah benih-benih ketertarikan itu tercipta, maka sekat kedua dilepaskan. Maka akan tampak jelas keduanya tengah jatuh cinta. Satu sama lain mengungkapkan perasaannya. Peluk dan cium tak henti-hentinya dilakukan. “Seperti telenovela rasanya, tapi memang begitulah Owa Jawa,” ujar Anton. Ia mengaku tahap perjodohan inilah yang paling sulit dalam seluruh proses rehabilitasi. Dari 27 Owa Jawa, sudah terbentuk 8 pasang, sisanya masih jomblo. Hal ini disebabkan kurangnya pejantan.&lt;br /&gt;Perjodohan pun diusahakan memperhatikan kondisi fisik masing-masing. Misalnya, Owa yang sudah kehilangan taring diusahakan berpasangan dengan yang masih normal. Agar saat dilepas ke alam keduanya masih saling melindungi. “Tapi kalau mereka sudah cocok, meskipun sama-sama tidak punya taring, ya tidak apa-apa. Yang penting mereka sudah cocok,” ujarnya.&lt;br /&gt;Setelah resmi berpasangan, mereka pun melalui hari-harinya bersama-sama. Meski tak terucap dalam bahasa manusia, keduanya berjanji setia. Tidak ada kata mendua dalam kamus Owa Jawa.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Setelah kondisi mereka sehat, perilaku sudah sesuai dengan yang diharapkan, dan telah memiliki pasangan, maka mereka siap dilepaskan. Setelah dilepaskan, mereka akan membentuk teritori (semacam daerah kekuasaan) bersama pasangannya.  &lt;br /&gt;“Selain menyiapkan Owa nya, juga harus menyiapkan tempat pelepasannya,” ujar Anton. Tempat pelepasan itu harus aman dari perburuan, selain juga memiliki ketersediaan vegetasi yang cukup sebagai makanan bagi mereka. Maka itu, hutan konservasi seperti taman nasional adalah lokasi yang tepat. Diperkirakan pertengahan tahun ini, Owa Jawa yang telah berpasangan akan diuji coba untuk dilepas ke alam.&lt;br /&gt;Setelah dilepas, bukan berarti tanggung jawab telah selesai. Anton mengingatkan pentingnya pemantauan. Pemantauan itu bisa dilakukan melalui berbagai studi mengenai kondisi Owa Jawa pasca pelepasan.&lt;br /&gt;Jefry dan Nancy kini sedang menanti. Menanti babak baru dalam hidup mereka. Menghadapi alam bebas yang menyimpan berbagai ancaman. Di sana mereka menaruh harapan. Harapan untuk melahirkan Jefry dan Nancy kecil. Tugas kita untuk menciptakan rumah yang aman bagi mereka di alam ini. Mencintai mereka tidak berarti harus memiliki. (Catur Ratna Wulandari/”PR”)***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Artikel ini sudah pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-2105946721932190969?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/2105946721932190969/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2009/05/saat-cinta-mempertemukan-jefry-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/2105946721932190969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/2105946721932190969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2009/05/saat-cinta-mempertemukan-jefry-dan.html' title='Saat Cinta Mempertemukan Jefry dan Nancy'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-1595444453328332802</id><published>2008-11-23T03:46:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T05:03:21.121-08:00</updated><title type='text'>Jihad?</title><content type='html'>Saya seorang muslim. Bukan muhamadiyah, bukan nahdatul ulama, juga bukan tarbiyah. Ada berapa banyak aliran di agama Islam, aku juga tidak tahu. Saya Islam, itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang eksekusi Amrozi, saya ditugaskan meliput keluarga Amrozi di Desa Tenggulun Kec. Solokuro Kab. Lamiongan Jawa Timur. Redaktur mengirim saya karena kemampuan saya berbahasa Jawa dan asal saya tidak begitu jauh dari Lamongan. Singkat kata, sampailah saya di Lamongan bersama seorang fotografer dan seorang wartawan senior dari Biro Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenggulun itu jauuuuhhhh... sekitar 7 km di sebelah utara Tanjung Kodok. Sampai di sana, ternyata rumah Amrozi sudah dikepung wartawan. Media cetak dan elektronik dari penjuru Indonesia dan dunia sudah tuplek bleg di desa yang biasanya sepi itu. Beberapa menyewa rumah penduduk untuk memudahkan operasional. Sebagian lagi menginap di hotel yang letaknya di sekitar Tanjung Kodok atau di Lamongan kota. Aku, menggunakan dua-duanya. Rumah penduduk ada, penginapan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian berita tidak sesulit yang kubayangkan. Karena banyak media, maka aku merasa tidak sendiri. Beberapa informasi kudapatkan dari mereka. Beberapa alumni sekolahku ada juga yang meliput di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua media massa saat itu memberitakan rencana eksekusi Amrozi. Hampir semua tv swasta live di sekitar kediaman Amrozi. Sepenting itukah Amrozi? Oke, dia memang tokoh penting di balik pengeboman bom bali. Lalu? Wajar kan kalau dia di eksekusi, sebagaimana dikatakan putusan pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi justru seolah-olah dia adalah pahlawan. Baiklah... bagi sebagian orang ini disebut jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tidak paham... apa ini yang namanya jihad? Membunuh ratusan orang yang tidak ia kenal. Terlepas dari benar atau tidak ia melakukan ini, putusan pengadilan menyatakan demikian. Diapun sudah mengakui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Amrozi, yang jelas-jelas mengatakan tidak takut mati dan menolak grasi itu akan dieksekusi, berbagai usaha mengulur jadwal eksekusi dilancarkan oleh kuasa hukumnya. Semua mata dunia terarah ke sana. Media seolah menciptakan perang, yang pro dan kontra eksekusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, membunuh adalah kejahatan. Korban bom Bali bukan cuma warga asing, muslim juga banyak yang tewas. Lalu apa dosa orang-orang asing itu? Msalah keyakinan yang berseberangan itu urusan masing-masing dengan Tuhan-nya. Tidak perlu manusia menghakimi di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak habis pikir, begitu mudah seseorang mengatai orang lain kafir. Jangankan ke orang yang beda agama. Sesama muslim juga ada yang dikatai kafir. Sudahlah, tak perlu kita menjadi wakil Tuhan di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksekusi Amrozi tidak ubahnya seperti eksekusi pelaku kejahatan lainnya. Heboh yang diciptakan media justru menggerakkan massa pada dua kutub, pro dan kontra. Kalau kemudian ada kekhawatiran munculnya kerusuhan menjelang dan pasca eksekusi, media juga harus bertanggung jawab. Apa yang disajikan sebetulnya turut menggerakkan massa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-1595444453328332802?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/1595444453328332802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/11/jihad.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/1595444453328332802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/1595444453328332802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/11/jihad.html' title='Jihad?'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-8075109535692025472</id><published>2008-10-19T01:20:00.000-07:00</published><updated>2008-10-19T02:05:37.324-07:00</updated><title type='text'>Mencari Bintang</title><content type='html'>Sampai hari ini, matahari tak pernah ingkar janji...&lt;br /&gt;Ia selalu tiba pada waktunya dan pergi pada saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang?&lt;br /&gt;Sudah lama tak kulihat bintang.&lt;br /&gt;Sepertinya bintang sudah ditelan oleh langit. Entah disembunyikan kemana.&lt;br /&gt;Atau mungkin...&lt;br /&gt;Bintang sedang enggan bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah?&lt;br /&gt;Mungkin tidak...&lt;br /&gt;Hanya enggan...&lt;br /&gt;Sepertinya sudah tidak ada yang ingin menikmati kilau bintang.&lt;br /&gt;Lalu untuk apa menampakkan diri?&lt;br /&gt;Biarkan saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saatnya dia akan bersinar kembali...&lt;br /&gt;Mungkin sampai langit merindukannya&lt;br /&gt;Sampai langit membutuhkan kilaunya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-8075109535692025472?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/8075109535692025472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/10/mencari-bintang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/8075109535692025472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/8075109535692025472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/10/mencari-bintang.html' title='Mencari Bintang'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-3014690377210994416</id><published>2008-10-06T01:48:00.001-07:00</published><updated>2008-10-06T02:11:33.978-07:00</updated><title type='text'>Kami Berdoa</title><content type='html'>Bayi berusia empat bulan itu tampak tampan dan sehat. Kulitnya putih, tubuhnya gemuk. Ia sangat menikmati mengulum jari-jemarinya sendiri. Dia begitu nyaman berada di gendongan sang nenek yang duduk di bangku rumah makan itu. Rupanya ibunya sedang memesan makanan. Aku yang duduk di meja sebelah tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya. Kulemparkan senyum pada si kecil tampan itu. Dia membalas dengan tatapan malas. Ngantuk rupanya. Tak lama ia tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Neng geulis sudah punya putra?," tanya sang nenek kepadaku.&lt;br /&gt;"Belum, Bu," jawabku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;"Sudah lama?," katanya lagi.&lt;br /&gt;"Belum ko, Bu. Masih baru," jawabku tanpa ingin bertanya lebih lanjut apa maksud pertanyaannya. Mungkin dia bertanya karena dia melihatku bersama seorang laki-laki yang dikiranya suamiku. Aku tidak peduli.&lt;br /&gt;Bulu kudukku berdiri mendengar pertanyaan ibu tadi. Lebih tak habis pikir ketika mendengar jawabanku sendiri. Tapi entah mengapa ada pengharapan yang merindukan doa orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelakiku yang baru kembali dari toilet memasang muka bertanya-tanya karena melihatku tersenyum.&lt;br /&gt;"Ada apa?," katanya lembut.&lt;br /&gt;"Ditanyain ibu ini, sudah punya putra belum?," begitu kataku mengulangi ucapan nenek si bayi.&lt;br /&gt;"Doain ya bu," begitu kata lelakiku. Jawaban yang tidak kuduga. Yang tak bisa kulupakan, wajahnya saat melontarkan jawaban itu. Matanya berbinar penuh harap. Badannya merunduk, menegaskan harapannya.&lt;br /&gt;"Tapi saya lihat si eneng ini masih sangat muda. Seperti masih belasan," begitu timpal si nenek.&lt;br /&gt;"Oh wajahnya aja, Bu. Saya 26, dia 24," jelas lelakiku.&lt;br /&gt;"Oh... saya kira masih muda. Ya ya saya doakan," katanya menutup perbincangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami saling berpandangan. Mengamini semua yang kami bicarakan. Ada bahagia yang tiba2 berdesir. Ada harapan yang semakin tinggi. Semoga Tuhan mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski jalan yang membentang untuk mencapainya begitu panjang, terjal dan berliku, aku ingin bertahan. Entah sampai kapan. Biarkan kami memperjuangkannya Tuhan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Rumah Makan Bancakan, Minggu 5 Oktober 2008 11.00&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-3014690377210994416?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/3014690377210994416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/10/kami-berdoa.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/3014690377210994416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/3014690377210994416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/10/kami-berdoa.html' title='Kami Berdoa'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-7262110620233380202</id><published>2008-10-03T06:23:00.000-07:00</published><updated>2008-10-03T06:49:06.730-07:00</updated><title type='text'>Bintang dan Langitnya</title><content type='html'>&lt;p&gt;Bintang...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitu dia memanggillku, katanya aku adalah bintangnya...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenapa "Bintang"? tanyaku waktu itu...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Aku ingin kamu tetap bersinar. Indahmu bisa dinikmati semua orang," begitu jawabnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski di telingaku awalnya terdengar seperti merayu, aku suka... Tersipu aku dibuatnya. Kali ini benar-benar tersipu...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Malam itu, ia bilang ingin menjadi langit... karena ketika bintang tak bercahayapun sebenarnya langit tetap bisa melihat bintang. Meski manusia di bumi tak dapat melihat kilau bintang, langit tetap melihatnya karena bintang tetap berada dalam naungannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Indahnya...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak penting lagi aku bersinar atau tidak kan? Bagaimanapun keadaannya, bintang tetap butuh langitnya... hamparan cakrawala yang memeluknya...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitulah bintang dan langitnya bermula...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;* untuk Langit-ku... karena bintang bukanlah apa-apa tanpa langitnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-7262110620233380202?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/7262110620233380202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/10/bintang-dan-langitnya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/7262110620233380202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/7262110620233380202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/10/bintang-dan-langitnya.html' title='Bintang dan Langitnya'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-7221066128548375390</id><published>2008-10-03T05:56:00.001-07:00</published><updated>2008-10-03T06:18:28.298-07:00</updated><title type='text'>Takbiran dan FPI</title><content type='html'>&lt;p&gt;Kupikir malam takbiran di mana pun akan sama dengan di kampungku. Ternyata tidak. Aku tidak berhenti geleng-geleng kepala kebingungan mendapati suasana malam takbiran di Kota Bandung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Arak-arakan mobil pick up  terbuka sarat penumpang memenuhi jalanan. Bikin macet. Mereka yang mayoritas masih ABG itu pada jejingkrakan. Teriak-teriak, bawa terompet, nari-nari, banyak juga yang buka baju.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini takbiran atau malam tahun baru?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku ingat rumah,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setiap malam takbiran suasana begitu takzim... menunggu fajar Idul Fitri. Ada pawai, tapi pakai baju koko dan nggak bikin macet. Masih ada yang keliling bawa obor. Ya, mungkin karena rumahku terletak di kota kecil. Tidak seramai di sini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di kampung halamanku, banyak sekali anggota keluarganya yang merantau ke luar kota. Lebaran menjadi momen untuk pulang kampung, mudik. Kebanyakan sampai di rumah pada malam takbiran atau sehari sesudahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mana sempat kami berhura-hura di jalanan. Lebih baik berkumpul bersama keluarga yang sudah lama tidak dijumpai. Di kampungku pasti ada kenduri di malam takbiran, syukuran kecil-kecilan merayakan Idul Fitri. Tiap rumah membawa dua bungkus penganan untu kemudian saling ditukarkan. Begitu tradisi kami. Tidak ada acara turun ke jalan. Sedikit sekali yang masih melakukannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku terhenyak dengan suara klakson yang membahana,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masih tidak percaya, ini takbiran atau tahun baru?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku menatap ke depan. Sebuah sepeda motor matic berpenumpang tiga laki-laki yang kutaksir baru berusia 13 tahun itu berjalan tidak karuan. Penumpang paling belakang membawa botol minuman keras. Oohhh!!!! Apa-apan ini?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ternyata mereka bukan satu-satunya yang sedang mabuk. Di bak-bak terbuka yang mengangkut mereka yang katanya sedang takbir keliling itu juga sedang mabuk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemabuk itu meneriakkan nama Tuhanku.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kurang ajar! Mereka pikir ini yang diinginkan Tuhan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Puasaku belum sempurna, tapi pun tak rela kalo Ramadhan dihabisi dengan cara seperti ini. Mereka meneriakkan nama Tuhanku dengan berjingkrak-jingkrak di jalanan tanpa pakaian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku malu...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tiba-tiba aku ingat FPI! yang katanya Front Pembela Islam! Mana mereka? Dimana mereka malam itu? yang pada hari-hari sbeelumnya selalu sibuk membasmi tempat-tempat hiburan yang tetap beroperasi, yang selalu sibuk mengurusi jalan hidup orang lain, yang tidak segan-segan menyakiti orang lain yang tak sepaham. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dimana mereka malam itu?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seharusnya mereka turun ke jalan dan memukuli mereka satu persatu yang sudah melecehak Tuhannya. Seharusnya mereka marah karena Idul Fitrinya disambut dengan cara seperti ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aaaahhhh...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tengah malam berlalu, mereka masih sibuk di jalanan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa mereka bisa bangun pagi dan menjalankan Shalat Id? Ah belum tentu juga mereka ingin shalat Id...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tiba-tiba ada yang berdesir...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku ingin pulang...&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;I&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-7221066128548375390?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/7221066128548375390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/10/takbiran-dan-fpi.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/7221066128548375390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/7221066128548375390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/10/takbiran-dan-fpi.html' title='Takbiran dan FPI'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-6935958513987643673</id><published>2008-08-31T03:44:00.000-07:00</published><updated>2008-08-31T03:46:27.297-07:00</updated><title type='text'>Pelajaran Hari Ini</title><content type='html'>Aku terdiam melihatnya. Senyumnya begitu menawan. Tulus tapi menyiratkan ketangguhan. Atok, ia mengaku berumur 7 tahun. Badannya kecil. Kalau menurutku dia lebih muda dari  angka yang ia sebutkan.&lt;br /&gt;Dia baru dua hari menghuni panti asuhan. Ibunya meninggal karena sakit. Ayahnya menyusul saat nyawany aterenggut dalam sebuah kecelakaan. Setelah kepergian kedua orang tuanya, ia tinggal bersama uwaknya. Entah apa rencana Tuhan. Sebuah musibah menimpa uwaknya, ia menjadi korban kebakaran. Luka pada tubuhnya yang barangkali membuatnya memutuskan untuk menitipkan Atok di panti.&lt;br /&gt;Senyumnya yag paling merekah di antara yang lain. Dia sangat cerewet! Tidak bisa diam. Melompat-lompat, tertawa keras-keras, mengomentari apa yang dilihatnya. Yang aku terpana, dia tidak hanya tersenyum dengan bibirnya. Matanya pun tertawa... Bersinar...&lt;br /&gt;Aku menyayanginya... kataku dalam hati.&lt;br /&gt;Tidak hanya dia, juga belasan gadis cilik itu.&lt;br /&gt;Aku sempat bersedih saat berpkir tentang Ramadhan yang tidak bisa kulali bersama keluargaku. Aku sempat hampa ketika teman-teman sudah punya acara di sahur pertamanya...&lt;br /&gt;Apakah anak-anak itu juga berpikir tentang hal itu?&lt;br /&gt;Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama mereka... Aku tidak bisa memberi banyak, tapi aku bahagia ketika bersama mereka.&lt;br /&gt;Temanku pernah membagi petuah: Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah.&lt;br /&gt;Dan anak-anak itu memberiku memberiku pelajaran tentang hidup, keberanian, ketabahan dan perjuangan. Dan satu hal, senyum. Betapa senyum adalah cara yang paling indah dan mudah untuk menghadapi hidup.  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-6935958513987643673?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/6935958513987643673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/08/pelajaran-hari-ini.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/6935958513987643673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/6935958513987643673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/08/pelajaran-hari-ini.html' title='Pelajaran Hari Ini'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-1755408756520300978</id><published>2008-08-29T05:01:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T05:05:16.947-07:00</updated><title type='text'>Rindu Menari</title><content type='html'>Aku menyesal berhenti menari. Dari semua kegiatan yang pernah kutekuni, aku rindu menari. Ketika itu aku sudah duduk di bangku kelas III SD saat bergabung dengan Sanggar Ardaninggar Singosari, sanggar tari tradisional Jawa. Menurutku itu terlambat. Seharusnya aku bisa bergabung sejak kecil. Sebenarnya sejak di taman kanak-kanak aku sudah menari. Entah kenapa guruku selalu menunjukku untuk menari. Sejak saat itu aku selalu menari.&lt;br /&gt;Sejak bergabung di sanggar tari, aku lebih sering tampil. Sering sekali kami diminta menari di berbagai event, dari acara pemerintahan, lingkungan sekolah, acara apapunlah. Kalau pas tujuh belas Agustus selalu jadwalnya padat, diundang kemana-mana. Minimal tampil sendiri di kampung sendiri.&lt;br /&gt;Sanggar tariku termasuk mempunyai nama yang besar. Bahkan kami sudah mempunyai sistem kelas. Setiap enam bulan sekali kami mengikuti ujian tari untuk kenaikan level. Kami menyebutnya ujian tari dasar. Ada dasar 1 sampai dasar 6.&lt;br /&gt;Hanya dua tahun aku les menari. Waktu itu di sekolah mulai banyak kesibukan. Dan aku mulai bosan dengan menari. Aku ingin mencoba kegiatan lain. Akhirnya aku berhenti les, tapi aku tidak berhenti menari. Aku tetap aktif menari di berbagai kesempatan sampai usiaku 16 tahun.&lt;br /&gt;Orang tuaku orang Jawa tulen. Banyak hal yang didasarkan pada norma-norma Jawa (walaupun tidak semuanya aku setuju). Bapakku dulu termasuk orang yang berpandangan perempuan JAwa itu haruslah halus, luwes, dan berambut panjang. Aku dan kakak perempuanku tidak pernah berambut pendek. Kalaupun pernah itu harus menelan sindiran Bapak hehehe. Les menari menjadi kegiatan wajib kami. Menurut orang tua saya itu bisa melatih keluwesan dan budi halus kami. Oh no! Alasan macam apa itu!&lt;br /&gt;Tapi aku memang suka menari. Ada kesenangan yang tidak terlukiskan ketika menari. Ada emosi yang tersalurkan.&lt;br /&gt;Dulu cita-citaku menjadi anggota misi kebudayaan Indonesia yang bisa berkeliling dunia karena menari. Sayangnya, aku baru berkeliling tatar Malang dan Jawa Timur saja.&lt;br /&gt;Ah seandainya saja aku tetap menari...&lt;br /&gt;Seandainya saja aku bisa lebih tekun dan tidak cepat bosan.&lt;br /&gt;Ah aku rindu menari...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-1755408756520300978?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/1755408756520300978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/08/rindu-menari.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/1755408756520300978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/1755408756520300978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/08/rindu-menari.html' title='Rindu Menari'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-7307820880951398585</id><published>2008-08-10T09:09:00.000-07:00</published><updated>2008-08-10T09:20:56.178-07:00</updated><title type='text'>AKU INGIN</title><content type='html'>&lt;p&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana &lt;br /&gt;dengan kata yang tak sempat diucapkan &lt;br /&gt;kayu kepada api yang menjadikannya abu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana &lt;br /&gt;dengan isyarat yang tak sempat disampaikan &lt;br /&gt;awan kepada hujan yang menjadikannya tiada&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(Sapardi Djoko Damono)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;--- Puisi cinta yang paling aku suka. Menggambarkan cinta yang kuinginkan. Menggambarkan cinta yang seharusnya dan sesungguhnya ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-7307820880951398585?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/7307820880951398585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/08/aku-ingin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/7307820880951398585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/7307820880951398585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/08/aku-ingin.html' title='AKU INGIN'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-1347147999518345842</id><published>2008-08-10T08:56:00.000-07:00</published><updated>2008-08-10T09:04:33.140-07:00</updated><title type='text'>Semoga</title><content type='html'>&lt;p&gt;Hari ini seharusnya menjadi sebuah awal baru untuk sebuah perubahan bagi kota baruku. Seharusnya ada lembaran baru yang akan diwarnai bersama-sama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masihkah itu terjadi?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin Tuhan sedang memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Mungkin Tuhan sedang mengujinya dan kita semua yang tinggal di kota ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tuhan, aku masih punya pengharapan. Semoga yang lain masih menyimpan harapannya dan tidak menjadi putus asa...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;--Pilwalkot Bandung, 10 Agustus 2008--&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-1347147999518345842?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/1347147999518345842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/08/semoga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/1347147999518345842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/1347147999518345842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/08/semoga.html' title='Semoga'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-1184428784544575189</id><published>2008-07-22T08:36:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T08:37:42.408-07:00</updated><title type='text'>Rindu</title><content type='html'>Aku sedang rindu pulang...&lt;br /&gt;Rindu rumah...&lt;br /&gt;Rindu Bapak...&lt;br /&gt;Rindu Ibu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's nothing, but everything...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-1184428784544575189?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/1184428784544575189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/07/rindu.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/1184428784544575189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/1184428784544575189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/07/rindu.html' title='Rindu'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-3160224417798841892</id><published>2008-06-05T04:58:00.000-07:00</published><updated>2008-06-05T05:03:18.619-07:00</updated><title type='text'>Terimakasih Cabanas!</title><content type='html'>Untuk pertama kalinya saya nonton pertandingan sepak bola secara langsung, dari awal sampai akhir. Persib Vs Sriwijaya FC, pertandingan uji coba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tanggung-tanggung, saya melihatnya di belakang garis gawang, bersama para fotografer. Seharusnya wartawan tulis nonton di tempat VIP, tapi saya kebagian di lapangan. Tempat yang seharusnya diperuntukkan untuk kami ternyata tidak cukup strategis. Alhasil saya dan teman-teman yang lain mengekor fotografer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan puluh  menit lebih mata saya tidak lepas dari 22 pemain yang berlari-lari mengejar si kulit bundar. Liputan pertandingan sepak bola saya tidak boleh gagal! Pikir saya dalam hati. Saya harus bisa membawa lapangan ke halaman koran saya besok. Ingatan saya tidak pernah lepas dari buku  Sindhunata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertandingan dua babak ini ternyata lumayan lama. Cukup membuat saya ingin buang air kecil. Dengan posisi saya di dekat gawang, dan banyaknya penonton yang harus saya lewati untuk menuju kamar kecil, maka saya memutuskan untuk menunggu hingga pertandingan usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol semata wayang striker baru Persib Hilton Moreira membuat the double winner Sriwijaya FC kalah. Pertandingan selesai.&lt;br /&gt;Tugas saya belum selesai. Saya masih harus ke ruang ganti oemain untuk mencari bahan-bahan tulisan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Oh saya butuh toilet!!!! Sabar... tahan...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak yang akan saya mintai komentar, saya memilih menggunakan rekorder. Rekorder  yang saya bawa adalah tape recorder model lama. Ukurannya cukup besar dibandingkan recorder digital yang sekarang sudah menjamur. Menurut pengalaman, saya tetap harus membawa notes untuk back up. Kalau-kalau ada kesalahan teknis, saya tidak kehilangan data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah saya wawancara. Pertama Hilton Moreira, lalu Maman Abdurahman. Begitu Ketua Umum Persib Dada Rosada dan Ketua Hariannya Edi Siswandi masuk, saya wawancara mereka berdua. Lalu, Zaenal Arif. Beres!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Setelah ini saya akan berlari ke toilet! tahan sedikit lagi...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, Jaya Hartono mengumpulkan pemainnya. MEreka membentuk lingkaran. Rupanya Jaya Hartono memberi waktu bagi Dada Rosada untuk memberi selamat kepada pemain yang berhasil menang atas kesebelasan tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ooohhh.... ya sebentar lagi pasti bisa ke toilet...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang wartawan berdiri di atas kursi untuk mengambil gambar. Saya pun ingin mengabadikannya.&lt;br /&gt;Saya mengambil posisi berdiri di atas salah satu kursi. Rekorder di tangan kanan, saya pindahkan ke tangan kiri bergabung dengan notes dan bolpen. Sementara tangan kanan saya berusaha meraih kamera dari tas ransel yang saya gantung di dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(saya tidak tahan lagi... saya butuh toilet!!! Saya mau pipis!!!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum wr. wb. Hari ini saya sangat bangga melihat permainan sore ini,” kata Dada Rosada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tangan saya mulai berkeringat dingin.... tahan....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, GUBRAKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!&lt;br /&gt;Semua benda di genggaman tangan kiri saya melepaskan diri. Tape recorder jumbo itu terjatuh, mendarat di atas kursi.&lt;br /&gt;Suasana mendadak hening.&lt;br /&gt;Semua mata mengarah ke saya.&lt;br /&gt;Sial! Kenapa jarum jam berhenti? Kenapa mereka semua diam dan memandang saya???&lt;br /&gt;Saya tidak bergeming. Jantung saya berdegub kencang. Oh no!!! Saya tidak mampu mengangkat kepala. Saya bahkan tidak bergerak sedikit pun. Damn!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemain bertubuh tinggi besar di depan saya berbalik. Dia membungkuk dan membereskan barang-barang saya yang berserakan. Dia rapikan notes saya, dia ambil bolpen dan rekorder yang ikut terjun bebas.&lt;br /&gt;“Ini....” katanya sambil menyerahkan benda-benda itu kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendongakkan kepala, ternyata Lorenzo Cabanas.&lt;br /&gt;“Terima kasih,” hanya itu yang sanggup keluar dari mulut saya.&lt;br /&gt;“Sama-sama,” kata Cabanas. Ia kembali memutar badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa dikomando, jarum jam melanjutkan putarannya. Semua orang yang mematung kembali bergerak. Dada Rosada melanjutkan pidatonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnn..................&lt;br /&gt;Segera selesaikan sesi ruang ganti ini!!!!!!!!&lt;br /&gt;Finish!!!&lt;br /&gt;Keinginan saya buang air kecil mulai tertutup perasaan yang campur aduk. Tapi ini sudah tidak bisa ditunda lagi.  Saya menuju toilet. Lega!!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-3160224417798841892?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/3160224417798841892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/06/terimakasih-cabanas.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/3160224417798841892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/3160224417798841892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/06/terimakasih-cabanas.html' title='Terimakasih Cabanas!'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-7726469945071292825</id><published>2008-06-02T08:37:00.000-07:00</published><updated>2008-06-02T09:02:19.739-07:00</updated><title type='text'>Me VS BOLA</title><content type='html'>Besok, untuk pertama kalinya aku melihat pertandingan sepak bola secara langsung. Tidak hanya melihat, karena setelahnya aku harus menuliskannya, dan menyajikan kepada pembaca esok keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... demam panggung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya banyak sekali ketakutan di kepalaku. Mengingat, aku bukan penggila bola. Aku bahkan tidak pernah mengidolakan pemain bola atau tim manapun. Dulu sempat terkena euforia piala dunia, tapi ya lewat begitu saja. Tapi aku selalu ikut merayakan ketika Arema "Singo edan" berhasil jadi juara hehehe&lt;br /&gt;Intinya, aku buta "BOLA".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, situasi semacam ini akan terjadi...&lt;br /&gt;Sejak awal, aku paling "khawatir" masuk desk olah raga. Tapi mau tidak mau aku harus masuk di dalamnya. Desk ini menyenangkan. Sangat menyenangkan. Bahkan beberapa teman sampai bermuram durja ketika harus beranjak meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desk ini memang menyenangkan. Kecuali satu hal! BOLA!&lt;br /&gt;Bagiku, itu menimbulkan ketakutan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh-jauh hari, aku mengantisipasinya dengan mencari tahu dan membaca. Aku membaca trilogi catatan sepak bola Sindhunata.&lt;br /&gt;Aku jatuh cinta pada tulisannya...&lt;br /&gt;Dia begitu pintar meramu sebuah pertandingan bola menjadi sesuatu yang sangat menarik dengan cara yang cerdik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi justru setelah membaca ini, aku terobsesi...&lt;br /&gt;Aku ingin membuat tulisan sebagus dia... Terlalu terburu-buru!&lt;br /&gt;Dari jam terbang saja sudah jauh berbeda.&lt;br /&gt;Dia bisa menulis sebagus itu juga bukan tiba-tiba kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayolah Nana...&lt;br /&gt;Jangan harap bisa melompat melewati beberapa anak tangga.&lt;br /&gt;Satu per satu, tapi mantap!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Smangat!!!!&lt;br /&gt;(sepertinya aku jauh lebih dheg-dhegan dibandingkan pemain Sriwijaya ataupun Persib yang besok bertanding...)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-7726469945071292825?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/7726469945071292825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/06/me-vs-bola.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/7726469945071292825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/7726469945071292825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/06/me-vs-bola.html' title='Me VS BOLA'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-3908593956541003392</id><published>2008-05-27T05:06:00.000-07:00</published><updated>2008-06-02T08:36:11.726-07:00</updated><title type='text'>...Jangan khawatir Bunda...</title><content type='html'>Perempuan itu duduk di emperan toko yang sedang tutup. Ia memangku bayinya yang sedang menyusu. Di sampingnya, seorang laki-laki duduk sambil memegang tas kresek hitam. Mata dua orang dewasa itu melihat ke arah yang sama. Keduanya memandangi makhluk mungil yang berbalut selimut kuning. Keduanya tampak sambil berbicara, matanya berbinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sedang mereka bicarakan? Sepertinya sesuatu yang membahagiakan.&lt;br /&gt;Mungkin sedang membicarakan perkembangan buah hatinya. Mungkin juga sedang menimang-nimang si kecil yang berisi harapan di masa datang. Ah, keluarga kecil itu tampak bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka sedang mendekap masa depan," pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membentuk keluarga. Bagaimana mengawalinya? Menikah! Begitukah?&lt;br /&gt;Usiaku 24 tahun, bagiku itu angka yang terlalu dini untuk menikah. Anda boleh tidak setuju.&lt;br /&gt;Banyak teman seumuran yang sudah menikah, ada juga yang sedang mempersiapkannya.&lt;br /&gt;Salut bagi mereka karena telah mencapai fase itu.&lt;br /&gt;Salut bagi mereka yang sudah bisa memutuskan untuk "menikah".&lt;br /&gt;Aku?&lt;br /&gt;Heh... mungkin masih terlalu egois untuk berpikir tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku percaya, bahwa setiap fase kehidupan akan datang pada saatnya.&lt;br /&gt;Maka, aku akan menjalaninya satu persatu.&lt;br /&gt;Masa aku sekolah, maka aku berusaha mengumpulkan prestasi sebaik mungkin. Mencoba apa yang aku inginkan. Dan tentu saja, bersenang-senang sebisanya.&lt;br /&gt;Masa aku kuliah, aku berusaha menengguk ilmu sebanyak-banyaknya. Mencari pengalaman dimana saja.&lt;br /&gt;Masa aku bekerja, aku tetap berusaha menjadi apa yang aku inginkan. Mengejar apa yang aku cita-citakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, pasti akan ada saat ketika aku bisa berkata "Aku akan menikah".&lt;br /&gt;Mungkin saat ini belum, tapi suatu hari bisa jadi saat bangun pagi aku berpikir "Ya aku akan menikah".&lt;br /&gt;Mungkin aku hanya perlu menunggu seseorang yang bisa membuatku berpikir begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bundaku, jangan gelisah.... Bukan aku tak mau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-3908593956541003392?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/3908593956541003392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/perempuan-itu-duduk-di-emperan-toko.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/3908593956541003392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/3908593956541003392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/perempuan-itu-duduk-di-emperan-toko.html' title='...Jangan khawatir Bunda...'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-8980106640993190606</id><published>2008-05-21T23:45:00.000-07:00</published><updated>2008-05-21T23:47:17.965-07:00</updated><title type='text'>Kebangkitan Itu Kerja dan Penderitaan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Beberapa hari ini saya memutar otak...&lt;br /&gt;Saya ingin menulis sesuatu tepat pada peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Sayangnya, meskipun saya sudah berpikir keras, satu kalimat pun tidak bisa saya tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membaca beberapa tulisan tentang Kebangkita Nasional, banyak yang bernada pesimis, karena bagi mereka setelah seratus tahun juga tidak bisa menciptakan banyak perubahan. Masih banyak yang tidak puas. Saya kurang suka tulisan macam itu, menurut saya itu tidak solutif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, suatu malam, saya melanjutkan membaca buku Putu Wijaya yang berjudul GORO-GORO, sebuah kumpulan sketsa dalam tabloid Tokoh, suplemen Bali Post. Sampailah saya pada halaman yang berjudul “KEBANGKITAN”. Tulisan ini untuk memperingati 93 tahun Kebangkitan Nasional, dan saya rasa masih relevan sampai sekarang. Usai membacanya, saya bergumam, “Inilah makna kebangkitan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya ingin membaginya kepada semua orang yang entah secara sengaja atau tdak mampir ke halaman saya. Berikut adalah penggalan tulisan Putu Wijaya tersebut.&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;“Kamu tahu, setelah 93 tahun menggembar-gemborkan kebangkitan, ternyata hasilnya hanya seperti sekarang ini. Semuanya pada musuhan. Semuanya mengaku paling bener. Tarik urat leher dan ngeyel-ngeyelan kita memang paling bisa. Tapi giliran membangun, memelihara negara, tidak ada yang mampu!,” gerutu Pak Amat kepada istrinya usai menghadiri upara peringatan Kebangkita Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Amat tidak menjawab.&lt;br /&gt;“Kamu kok diam saja!” bentak Amat kemudian. “Apa kamu tidak sadar bahwa negara kita sedang mengalami krisi? Pemimpin-pemimpin kita sedang berkelahi? Dan rakyat selalu kena kibul?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Amat menggeleng.&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu, Pak. Mungkin betul begitu. Soalnya koran, televisi, dan para tetangga juga mengatakan begitu. Entahlah. Aku tiap hari sibuk di dapur, tidak terlalu sempat melihat negara. Kalau mencoba juga, pasti susah. Negara itu kan besar sekali. Bukan satu dua tempat. Bukan satu dua orang. Susahlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya aku kasih tahu sekarang ini. Kita ternyata tidak pernah bangkit. Ngomong saja tentang kebangkitan. Prakteknya tidur terus. Mata kita terpejam. Dibuka juga tidak kelihatan apa-apa, karena kita sudah terbiasa dalam kegelapan. Kita keenakan tidur dan mimpi, tahu. Kita bangsa yang bermimpi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Amat mengangguk.&lt;br /&gt;“Habis, buat apa bangun, kalau mimpi lagi enak-enaknya?”&lt;br /&gt;“Itu dia!” bentak Amat. “Kita sudah kena sesirep, lebih suka mimpi daripada terbangun. Lebih senang tidak sadar daripada bangkit. Ini harus diberantas, kalu tidak kita akan musnah!”&lt;br /&gt;Bu Amat tak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi waktu Bapak pergi aku sudah tidur,” kata Bu Amat mengalihkan pembicaraan dengan halus. “Waktu tidur, aku bermimpi, Pak. Mimpinya bagus sekali. Aku seperti bisa terbang. Aku terbang. Wah sedap. Kelihatan pemandangan yang indah. Setelah lama terbang aku sampai di sebuah tempat yang makmur. Banyak bunga, banyak buah, banyak makanan. Juga banyak emas dan permata dan uang. Boleh ambil sepuas-puasnya, asal bisa membawa. Aku senang sekali. Aku mau bawa pulang semuanya, sebanyak-banyaknya. Tapi, sesudah sempat aku kumpulkan banyak, tiba-tiba aku dengar bunyi Bajaj di depan rumah. Aku ingat Bapak sedang pergi. Bapak tidak bawa kunci. Anak-anak tidur semua. Jadi, aku harus bangun. Bangun berarti aku kehilangan barang-barang itu semua. Tapi, kalau tidak bangun, Bapak tidak akan kebagian pintu. Dan kalau aku bangun, aku akan kembali ke rumah kita ini. Rumah tua yang WC-nya mampet tiap bulan. Bocor, banyak kecoak. Rumah yang berantakan karena anak-anak kita semuanya manja, tidak ada yang doyan menyapu dan mengepel. Kalau bangun, berarti aku juga akan ingat utang-utang kita pada tetangga. Uang untuk bayar sekolah anak-anak belum ada. Ada keluarga sakit keras di kampung. Wah, seribu macam soal akan ingat. Tapi, kalau tidak bangun, Bapak bisa tidur semalaman di luar rumah. Akhirnya aku bangun. Aku tinggalkan mimpi yang indah itu. Untunglah aku bangun, kalau tidak, Bapak yang sedang frustasi ini kan tambah stres. Ayo masuk Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amat terpesona, tapi ia merasa sudah tersindir. Seperti orang yang kecewa Amat berdiri. Istrinya tidak mengerti apa yang tadi sudah diceritakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo masuk, Pak. Aku sudah sediakan wedang jahe, biar anget.”&lt;br /&gt;Amat terpaksa masuk ke dalam rumah. Begitu masuk, ternyata rumah berantakan. Rupa-rupanya anak-anaknya sore tadi membawa kawan-kawannya, pesta, lalu pergi begitu saja.&lt;br /&gt;“Lihat, kalau aku tidak bangun, aku tidak akan tahu rumah kita yang berantakan, Pak. Padahal, besok kita kan giliran menyelenggarakan arisan. Tetangga pada datang. Masakkita sambut mereka dengan berantakan begini. Miskin boleh miskin, tapi jangan berantakan. Ayo Pak, minum wedang  jahenya. Kalau sudah, bantu aku mengatur. Besok kita repot semua, tidak akan ada waktu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amat tercengang. Ia menghirup jahe. Enak sekali. Sementara istrinya mulai bekerja menata kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau tidak bangun tadi, pasti gule yang aku rebus untuk besok, kering dan hangus. Untung aku bangun, Pak. Untung aku bangkit dari tempat tidur dan melihat semua ketidakberesan ini. Kalau aku tidur, bagaimana aku bisa melihat rumah kacau begini? Kalau tidak melihat, ya pasti tidak akan diatur. Ya tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amat tiba-tiba merasa malu.&lt;br /&gt;“Maksudmu kebangkitan itu tidak berarti bim salabim sukses, tapi justru melek, melihat segala kekuarangan. Kebangkitan itu kerja dan penderitaan. Begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Amat tersenyum.&lt;br /&gt;“Apa begitu maksudku?” katanya membalikkan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-8980106640993190606?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/8980106640993190606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/kebangkitan-itu-kerja-dan-penderitaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/8980106640993190606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/8980106640993190606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/kebangkitan-itu-kerja-dan-penderitaan.html' title='Kebangkitan Itu Kerja dan Penderitaan'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-523638663501427690</id><published>2008-05-12T02:56:00.000-07:00</published><updated>2008-05-12T02:58:41.706-07:00</updated><title type='text'>Bangsaku yang Kaya Raya</title><content type='html'>Hari ini saya melihat ratusan orang mengantri minyak tanah. Di daerah Cihaurgelis Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, saya melihat antrian orang membeli minyak tanah hanya di film G 30 S/PKI karya Arifin C. Noer. Sekarang, saya bisa melihatnya lebih sering. Saat distribusi minyak tanah dibatasi karena konversi gas elpiji, ratusan orang, bahkan ribuan orang di seluruh Indonesia mengantri minyak tanah. Di Bandung saja, waktu itu tidak sulit mencari antrian minyak. Karena di mana-mana juga ngantri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang kenaikan BBM, katanya baru akan naik Juni nanti, beberapa antria juga sudah mulai kelihatan. Antrian ini karena barang yang dicari juga mulai langka. Minyak tanah mulai sulit dicari, elpiji juga begitu. Kalaupun ada, harganya gila-gilaan. Edan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, negara saya, Indonesia yang saya cintai ini merupakan salah satu negara yang kaya raya. Sumber daya alamnya melipah. Tanahnya subur. Bukan hanya untuk ditanami, kandungan mineral di bawah tanahnya juga sanga besar. Rasanya aneh kalau sekarang melihat orang Indonesia antri minyak tanah.&lt;br /&gt;Sumur minyak yang kita punya memangnya mampet dengan tiba-tiba? Oh ya saya lupa, harga minyak dunia kan sedang naik. Jadi wajar kalau harga dalam negeri juga ikut naik, baik BBM maupun minyak tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemh...&lt;br /&gt;Tetap saja aneh!&lt;br /&gt;Kalau memang kita punya sumur minyak, harga minyak yang tinggi harusnya menguntungkan kita dong?! Mana ada pedagang yang paceklik ketika dagangannya sedang naik harganya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya.. saya lupa! Kita memang punya minyak. Bumi Indonesia ini memang mengandung banyak energi fosil. Tapi yang bikin sumurnya bukan kita. Bukan Bangsa Indonesia!&lt;br /&gt;Katanya dulu kita tidak punya teknologi untuk membuat sumur-sumur itu, makanya pemerintah waktu itu mengijinkan orang asing yang bikin sumurnya. Karena mereka yang bikin, hasilnya juga buat mereka dong! Cukuplah Indonesia dikasih bagian seberapa persennya lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bodoh?!&lt;br /&gt;Ah bukan soal lagi.. toh semuanya sudah berlarut-larut. Sudah terlanjur. Pemerintah sudah kehilangan taringnya untuk mengusir bangsa-bangsa asing yang mengruk minyak kita.&lt;br /&gt;Yang kadang tampak ganjil di kepala saya, banyak sekali sarjana kita yang pintar-pintar itu, merasa bangga ketika menjadi bagian dari kerajaan asing yang turut mengeruk minyak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasarnya nih, mereka mengeruk minyak kita dengan tangan-tangan orang kita sendiri.&lt;br /&gt;Mungkin perlu dimaklumi karena di sana mereka bisa mengumpulkan uang yang banyak. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang bisa bangsa kita berikan. Lagi-lagi memenangkan urusan perut.&lt;br /&gt;Entah bagaimana mengembalikan kejayaan bangsa saya -yang juga bangsa Anda- ini! Bangsa saya bangsa yang kaya, tidak seharusnya dia hidup susah! Tidak pantas rasanya kalau rakyatnya hidup miskin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah!!!!&lt;br /&gt;Tapi entah siapa yang pantas menerima kemarahan saya ini.&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya teringat kata Mahatma Gandhi, “Kemiskinan adalah bentuk terburuk dari kekerasan”.&lt;br /&gt;oh...&lt;br /&gt;Betapa aku mencintai bangsaku yang karut marut ini!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-523638663501427690?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/523638663501427690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/bangsaku-yang-kaya-raya.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/523638663501427690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/523638663501427690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/bangsaku-yang-kaya-raya.html' title='Bangsaku yang Kaya Raya'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-4902944550774197251</id><published>2008-05-10T01:59:00.000-07:00</published><updated>2008-05-10T02:02:14.270-07:00</updated><title type='text'>Mengatur Manusia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sebagai pendatang baru di tanah Priangan, ada beberapa fakta tentang Jabar yang sangat memprihatinkan. Termasuk 10 besar provinsi di Indonesia dengan angka kematian ibu melahirkan yang tinggi. Angka human trafficking Jabar juga yang tertinggi di antara provinsi yang lain. Tingkat urbanisasi yang masih tinggi. Kota besar di Jabar, seperti Bandung, setiap harinya dipadati oleh sedikitnya 3 juta orang pada siang hari. Tingkat kemiskinan Jabar semakin hari bukannya semakin berkurang, justru semakin bertambah. Padahal Dany Setiawan mengatakan selama ia menjabat sebagai Gubernur Jabar nilai investasi Jabar tumbuh drastis. Bahkan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Jabar melebihi LPE nasional. Logikanya. Anehnya, itu tidak membantu kemiskinan di Jabar. Angka tetaplah angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditarik mundur, menurut saya akar permasalahan dari semua permasalahan ini adalah jumlah penduduk yang tidak terkendali. Data terakhir menyebutkan, jumlah penduduk Jabar mencapai 41 juta jiwa. Fantastis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu kesempatan, saya pernah berbincang dengan Pak Us Tiarsa mengenai kependudukan. Pak Us ini memang mempunyai perhatian yang lebih pada masalah kependudukan di Jabar. Maklum saja, selain kesibukannya sebagai pemimpin redaksi di stasiun TV lokal Bandung, beliau juga aktif sebagai Ketua Umum Koalisi Mitra Peduli Kependudukan (Milik) Jabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pak Us, Jawa Barat membutuhkan manajemen kependudukan untuk mengelola penduduknya.  Sebenarnya angka kelahiran di Jabar setiap tahunnya sudah mengalami penurunan. Tetapi tidak dengan laju pertumbuhan penduduknya. Faktor migrasinya tidak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penduduk yang besar selama ini hanya menjadi potensi pasar, tetapi tidak diikuti dengan potensi produksi. Ibaratnya, Jabar seringkali cuma dijadikan tempat berdagang. Belum mampu membuat barang dagangan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya Pak Us, keruwetanini bisa dikurangi dengan memperbaiki potensi manusianya. Penduduknya harus dipintarkan, sehingga mampu bersaing dengan pendatang-pendatang. Seringkali pabrik-pabrik besar yang beroperasi di Jabar tidak menggunakan tenaga kerja yang ada di sekitarnya dengan alasan kualitasnya kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi jaman sekarang, setiap orang harus siap bersaing dengan semua orang dari berbagai penjuru dunia. Mau tidak mau, suka tidak suka, persaingan akan semakin ketat. Jadi, masing-masing harus mempunyai kemampuan untuk bertahan. Pendidikan menjadi jalan keluar untuk mengup-grade kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menyempitkan penidikan terbatas pada bangku sekolah yang dibatasi ruang kelas. Pendidikan bisa berlangsung dengan cara yang berbeda. Lebih bagus lagi, kalau nanti hasilnya adalah orang-orang yang bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Jadi tidak perlu menambah jumlah pengangguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau setiap orang mempunyai kemampuan dan daya saing, seharusnya perekonomian masyarakat juga akan membaik. Pengangguran dan kemiskinan bisa dikurangi. Ga perlu lagi ada korban-korban trafficking yang terjebak katika mencari pekerjaan. Tidak perlu lagi ada pernikahan dini, yang bagi sebagian masyarakat menjadi jalan keluar masalah ekonominya. Pernikahan dini ini yang menjadi penyebab utama kematian ibu melahirkan. Mereka melahirkan sebelum organ reproduksinya tumbuh sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susahnya mengatur manusia...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-4902944550774197251?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/4902944550774197251/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/mengatur-manusia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/4902944550774197251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/4902944550774197251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/mengatur-manusia.html' title='Mengatur Manusia'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-2503496272524357325</id><published>2008-05-09T03:59:00.000-07:00</published><updated>2008-05-09T04:00:54.190-07:00</updated><title type='text'>Ketika Merah Putih Tak Lagi Berkibar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sang Saka Merah Putih tak lagi berkibar di SDN 2 Cimarel. Betapa tidak, setelah bangunannya roboh diterpa angin dan gempa pada Agustus silam, murid-murid tidak lagi bisa mengadakan upacara bendera. Seluruh bangunan kelas roboh, tiang bendera ambruk. Kini yang tersisa adalah puing-puing bangunan. Bagaimanapun semangat murid-muridnya tak bisa dipadamkan. Di atas puing-puing reruntuhan, mereka tetap belajar.&lt;br /&gt;“Sejak sekolah rusak sudah tidak pernah upacara lagi. Olah raga juga cuma main tali,” kata Dewi (11), siswa kelas 5. Bagi Dewi dan murid lainnya, yang terpenting adalah bisa tetap belajar di sekolah. “Sedih sekolahnya rusak, tapi kan harus tetap sekolah,” katanya.&lt;br /&gt;Sekolah yang terletak di Kp. Babakan Jampang Desa Cibitung Kec. Rongga Kab. Bandung Barat ini pada awalnya adalah sekolah yang didirikan atas prakarsa masyarakat setempat. “Sekolah yang ada letaknya sangat jauh. Jadi     masyarakat meminta didirikan sekolah,” tutur Kuswan (36), salah satu guru yang telah mengabdi selama 13 tahun di SDN 2 Cimarele.&lt;br /&gt;“Saat kami camping memperingati Hari Pramuka, malamnya ada angin besar dan gempa yang menghancurkan sekolah kami,” kata Kuswan. Setelah kejadian itu, murid-murid tidak lagi dapat belajar di dalam kelas. Sebuah lapak seluas 5x20 meter yang terbuat dari kayu dan genteng seadanya menjadi ruang kelas yang baru.&lt;br /&gt;Lima papan tulis dipasang berderet dengan jarak tidak lebih dari 1 meter. Papan tulis itulah yang menjadi batas antara kelas yang satu dan kelas yang lain. “Kelas 1 dan 2 bergantian. Pagi untuk kelas 1, mulai jam 10 baru untuk kelas 2,” kata Neneng, satu dari empat guru yang mengajar di sekolah ini.&lt;br /&gt;Tak ada lantai marmer, tak ada dinding, atap seadanya. Jika hujan datang, atapnya tak sanggup menghalau air yang masuk melalui sela-sela genteng. Baju seragam dan buku pelajaran basah karenanya. “Tapi pelajaran tidak boleh berhenti, apapun keadaannya,” ujar Kuswan. Keadaan ini pula yang membuat siswa lebih nyaman memakai sandal jepit dibandingkan sepatu. “Kalau hujan repot,” kata Neneng.&lt;br /&gt;Sekolah Sejauh mata memandang terlihat perbukitan yang terhampar. Tidak mudah menjangkau sekolah ini. “Tiap hari saya jalan kaki. Ya sekitar 1,5 jam perjalanan,” tutur Kuswan.&lt;br /&gt;Jalanan yang menanjak, berbatu, dan licin tak menyurutkan tekad para guru dan murid untuk berangkat ke sekolah. “Saya senang sekolah. Berangkat pagi-pagi, sambil main-main sama teman-teman,” kata Heri (11), siswa kelas 5.&lt;br /&gt;Kuswan yang belum genap setahun diangkat menjadi CPNS (Calin Pegawai Negeri Sipil) ini menekankan pada murid-muridnya agar selalu mengedepankan sekolah. “Apapun keadaannya, jangan sampai menyurutkan semangat belajar,” katanya.&lt;br /&gt;Sejak bangunan sekolah roboh, belum ada usaha dari pemerintah untuk memperbaikinya. “Inginnya sekolahnya diperbaiki, biar tidak kehujanan,” harap Heri. Harapan ini juga menjadi harapan ke-175 murid sekolah ini.&lt;br /&gt;Angin boleh merobohkan bangunan, tapi tidak dengan tekad para murid. “Saya ingin jadi dokter,” kata Dewi.***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-2503496272524357325?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/2503496272524357325/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/ketika-merah-putih-tak-lagi-berkibar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/2503496272524357325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/2503496272524357325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/ketika-merah-putih-tak-lagi-berkibar.html' title='Ketika Merah Putih Tak Lagi Berkibar'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-682348289337301882</id><published>2008-05-08T23:08:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T23:43:37.605-07:00</updated><title type='text'>Balada Angkot</title><content type='html'>Apakah Anda pengguna angkutan umum di Bandung?&lt;br /&gt;Sebulan pertama di bandung, saya adalah pengangkot. Kemana-mana anaik angkot. Sudah pernanh ngerasain sebalnya ngetem. Ngerasain betapa setiap tikungan berhenti lama untuk menunggu penumpang. Kalau menurut pendapat saya, Bandung sudah kelebihan angkot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit sekali saya meya menemui angkot yang terisi penuh. Paling-paling terisi 6 orang saja. Kalaupun ada yang penuh, biasanya itu setelah melalui pe"ngetem"an yang cukup membuat penumpang dongkol. Di sepanjang jalan, banyak sekali angkot kosong berhenti menunggu penumpang. Banyak lahir tempat ngetem dadakan di sudut jalan. Tampaknya mencari penumpang sekarang ini sangat susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEmpo hari sempat main-main ke Dinas Perhubungan (Dishub) ngobrolin tentang angkot ini. Baik Dishub Kota Bandung maupun Jabar, sepakat bahwa jumlah angkot yang ada sekarang masih berada di bawah kuota angkot yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berani bertaruh, kuota itu pasti tidak pernah berubah sejak ditetapkan. Kuota itu sudah ditetapkan sejak bertahun-tahun yang lalu. Saat jalan raya belum dipenuhi oleh sepeda motor dan mobil. Sebelum suku bunga turun, sehingga dengan mudah orang memperoleh kredit kendaraan. Sekarang ini, dengan uang muka yang tidak lebih dari Rp 1 juta, sepeda motor sudah bisa dibawa pulang. Cicilan ringan, bunga rendah. Tidak ada lagi yang menghalangi orang punya sepeda motor, &lt;i&gt;ya&lt;/i&gt; kecuali kenaikan BBM. Itu juga bisa diatasi dengan kendaraan yang katanya hemat BBM. Kalau sudah begitu, mana ada yang mau naik angkot?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penumpang sekarang sepi," begitu kata Pak Asep, pemilik 5 angkot jurusan Cimahi-Leuwipanjang. Waktu itu saya menyewa angkotnya untuk pindahan kos dari daerah Caringin ke Buah Batu. Dia pemilik, tapi sekali waktu dia juga turun tangan untuk menyupiri angkotnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis angkutan umum sudah digekutinya puluhan tahun. "Dulu saya punya yang model isuzu elf. Kendaraan besar, untuk jurusan jarak jauh," tuturnya. Mungkin yang dia maksud angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP). Dia beralih menjadi pengusaha angkot karena penumpang AKDP sudah sepi. Belum lagi biaya perawatan yang sangat mahal. Akhirnya dia menjual seluruh isuzu elf nya dan mengganti dengan angkot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, angkot pun sudah tak lagi jadi primadona. "Sekarang semua punya sepeda motor," keluh Asep. Pendapatan dari angkot ternyata juga tidak cukup untuk membiayai BBM dan perawatannya. Harga BBM tidak pernah turun, spare part selalu ikut naik kejar-kejaran dengan harga dolar dan BBM. Tidak heran kalau tidak ada angkot yang nyaman, &lt;i&gt;lha&lt;/i&gt; &lt;i&gt;wong&lt;/i&gt; biaya untuk perawatan saja tidak ada. Dan yang pasti, pendapatan sopir angkot berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu, saya yang selalu "memusuhi" angkot jadi berpikir kembali. Sebelumnya saya memang jengkel sekali dengan angkot-angkot di Bandung ini, di kota mana pun sebenarnya. Mereka sering sekali berhenti tanpa memberi tanda. Menaikkan dan menurunkan penumpang sering di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Sekali motor saya "Si Billy" beradu dengan angkot. Badan saya memar-memar dan Billy harus rawat inap di bengkel. Habisnya lumayan banyak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keruwetan-keruwetan yang ditimbulkan angkot membuat saya memimpikan sebuah sarana angkutan umum yang massal, nyaman, rapi dan ramah lingkungan. Bukan busway ya!!!! Busway menurut saya tidak didesain untuk kota seperti Bandung yang jalannya sempit-sempit. Bentuknya bagaimana, sepertinya ahli transportasi lebih jago. Yang ada di kepala saya, ANGKOT HARUS DIKURANGI! DITERTIBKAN!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita Pak Asep, saya terdiam.&lt;br /&gt;Kalau angkot dikurangi, bagaimana nasibnya? Keluarganya? Anaknya? Ada berapa banyak Pak Asep di Bandung ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan perut tidak pernah mudah. Penyelesaiannya tidak bisa sembarangan. Salah langkah sedikit, bisa membuat orang ngamuk! Masalah perut, nyawa taruhannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya yakin pasti ada jalan keluarnya!&lt;br /&gt;Saya tidak punya kapasitas untuk bisa merumuskan formula yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. Dan tentunya ada pihak yang punya kewenangan dan keahlian untuk mencari solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heh...&lt;br /&gt;Semoga mereka-mereka itu tidak sedang menutup mata. Tidak sedang pura-pura tidak melihat keadaan ini. Atau sedang disibukkan dengan urusan yang tidak penting. Atau mereka sama bingungnya dengan saya? Bukankah mereka dibayar untuk menyelesaikan persoalan yang seperti ini....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-682348289337301882?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/682348289337301882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/balada-angkot.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/682348289337301882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/682348289337301882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/balada-angkot.html' title='Balada Angkot'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-4484703118753587314</id><published>2008-05-06T01:01:00.000-07:00</published><updated>2008-05-06T01:03:57.835-07:00</updated><title type='text'>--- AKU TAKUT ---</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;“Hari ini dapat liputan apa ajaNa? Besok ada liputan apa? Jangan lupa kasih tahu aku ya....”&lt;br /&gt;Hampir setiap hari aku mendengar kalimat itu dari seorang teman. BOSAAAAN!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku yang satu ini memang sedikit ajaib. Dia tidak pernah bosan mengomentari pekerjaanku. Liputanku, apa saja yang kubuat hari ini, berita apa yang dimuat hari ini, dan apa yang akan kulakukan besok. Tampaknya semua itu hal yang penting baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku tersayang,&lt;br /&gt;dimuat atau tidaknya berita kita, bagiku bukanlah sebuah akhir. Bukanlah sebuah prestasi yang harus dirayakan. Walapun memang sah-sah saja jika itu dipandang sebagai sesuatu yang membanggakan, mengingat kita yang masih bau kencur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi jurnalis, bagiku seperti pekerjaan yang tidak pernah membuat otakku berhenti berpikir. Aku mengawali hari dengan berpikir, apa yang akan kubuat hari ini. Lalu, bagaimana aku akan meramunya. Lalu, bagaimana menulisnya. Baru setelah itu diserahkan kepada bos! Untuk dinilai menurut kaca matanya, apakah laik muat atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kami (aku dan redaktur) sedang sepaham, maka aku akan mendapati pekerjaanku tercetak di surat kabar kami yang biasa dijual seharga rp 2500 per eksemplar. Kalau apa yang kutulis tidak ada di sana, bisa jadi itu tidak cukup penting untuk diketahui orang. Bisa jadi karena alasan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika apa yang kutulis dimuat. Aku tahu itu bukan akhir! Itu bukan sebuah garis finish dari pekerjaanku. Aku masih ingat ketika pagi-pagi aku terbangun karena telp dari kantor yang mengabarkan ada seorang nara sumber yang ke kantor. Katanya dia keberatan dengan tulisanku. Padahal tidak ada yang salah dengan itu. Mungkin karena malu, “borok” miliknya sebagian terungkap.Padahal baru sebagian kecil, tapi seolah-olah aku telah melakukan kejahatan dengan menuliskannya yang berarti membuat khalayak mengetahuinya.Ah jangankan begitu. Penulisan nama nara sumber yang salah saja bisa berbuntut panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalamanku seperti itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan para seniorku. Ada yang diancam akan dibunuh, ada yang diteror dengan berbagai cara, minimal didamprat oleh pihak-pihak yang merasa kecewa. Semuanya karena tulisan! Rupanya tulisan sepadan dengan senjata tajam. Ketika ada orang yang kecewa dengan tulisan, mereka sanggup memainkan senjata untuk membalasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semuanya seperti itu. Ada juga yang membahagiakan. Tulisan tentang sekolah roboh di Rongga, Kabupaten Bandung Barat, hasil duet dengan senior beberapabulan yang lalu rupanya membuat pemerintah malu dan segera bertindak cepat untuk memperbaikinya. Atau tentang guru sederhana yang menyundakan nama jalan di Bandung. Ternyata menarik orang untuk belajar Aksara Sunda. Kadang orang harus digerakkan melalui tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, ada tangung jawab yang mengikuti setiap tulisan. Apa yang masyarakat dapatkan setelah membaca tulisan itu. Apa pengaruh tulisan kita bagi masyarakat, bagi kebijakan pemerintah, bagi pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang kusuka dari profesiku. Aku mempunyai kesempatan untuk merubah sesuatu. Begitu banyak pintu yang terbuka, menjadi jahat, atau menjadi baik. Itu pilihan kita, di tangan kita.&lt;br /&gt;Semua itu membutuhkan tanggung jawab yang besar.&lt;br /&gt;Tulisanku belum ada apa-apanya. Belum ada yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku takut....&lt;br /&gt;Aku takut menjadi seseorang tanpa kualitas. Maka aku pun akan menghasilkan tulisan yang tidak berkualitas.&lt;br /&gt;Aku tidak takut ketika mereka tidak memuat beritaku. Aku lebih takut jika pembaca harus membaca sebuah bualan semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat nasehat seorang senior: “Tulislah berita dengan baik.  Kalau semua wartawan menulis berita dengan baik, maka redaktur tidak akan mempunyai pilihan berita yang buruk. Apapun yang akan dimuat, semuanya adalah berita berkualitas”.&lt;br /&gt;Aku setuju.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-4484703118753587314?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/4484703118753587314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/aku-takut.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/4484703118753587314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/4484703118753587314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/aku-takut.html' title='--- AKU TAKUT ---'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3184428222108672515.post-3060383963190658981</id><published>2008-05-06T00:52:00.000-07:00</published><updated>2008-05-06T00:55:49.602-07:00</updated><title type='text'>Kemalasan Modern</title><content type='html'>Senin, 5 Mei 2008&lt;br /&gt;11.15 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, ketika saya dan beberapa rekan sedang menunggu pertemuan antara pimpinan dewan dengan warga Saritem, salah satu dari kami, seorang mahasiswi yang sedang magang di radio melontarkan kalimat yang berani. Kurang lebih waktu itu dia bilang begini, “Aku nanti mau mencari suami yang kaya, yang bisa membiayai keperluanku. Setelah kuhitung-hitung, rata-rata sehari aku butuh Rp 50 ribu. Buat makan, jajan, jalan-jalan, ke salon. bla bla bla bla”.&lt;br /&gt;Saya sebut itu, pernyataan yang berani. Karena sepertinya, kalimat itu juga ada di kepala beberapa orang, bahkan mungkin banyak orang. Tapi, tidak semua bisa mengungkapkannya. Ada yang malu-malu mengakui bahwa itulah yang diinginkan dari seorang pria.&lt;br /&gt;Saya sendiri tidak tau pasti, apakah dia mengatakannya secara sadar. Apakah benar-benar itu yang diinginkannya, atau itu sekedar ungkapan yang menghibur kami, para kuli tinta, yang mulai kelelahan.&lt;br /&gt;Saat itu, kami tertawa lebar mendengar apa yang dia ucapkan. Sebagian meledeknya habis-habisan. Aku pun ikut tertawa. Tapi dalam kepalaku ada tanda tanya besar. Benarkah ini yang ada di kepala seorang perempuan cantik dan terpelajar ini? Kira-kira ada berapa banyak yang sepemikiran dengannya?&lt;br /&gt;Hemh...&lt;br /&gt;Apa ini yang disebut orang dengan realistis?&lt;br /&gt;Banyak nasehat yang bilang, bahwa menikah tidak hanya bermodal cinta. Inikah yang dimaksud?&lt;br /&gt;Semoga tidak!&lt;br /&gt;Ini lebih seperti sebuah potret kemalasan yang menjangkiti manusia modern belakangan. Semuanya ingin hidup enak tanpa peluh yang membasahi tubuh. Banyak yang ingin segera sampai di puncak tanpa mau melewati pendakian yang melelahkan. Mungkin karena banyak orang yang sudah lelah. Bosan dengan kelambanan.&lt;br /&gt;Lihat saja, betapa semua yang menjanjikan “kecepatan” selalu digandrungi orang. Kontes-kontes yang berlabel “from zero to hero” atau “from nothing to something” menjamur di semua stasiun tv. Begitu banyak yang ingin sukses dengan instan!&lt;br /&gt;Mau contoh yang lebih sederhana?&lt;br /&gt;Saya yakin, Indofood telah meraup untung yang fantastis dari penjualan mie instannya. Apalagi kalau bukan karena orang memang sudah tidak mau repot.&lt;br /&gt;Kembali ke persoalan paling atas, tentang “mencari suami kaya”. Tanpa bermaksud membenarkan atau menyalahkan. Tapi saya pikir, Ibu Kartini akan menangis di kuburnya ketika mendengar kalimat itu. Kartini dan banyak pejuang wanita lainnya mati-matian membuka kesempatan bagi perempuan untuk menjadi apapun yang dia mau. Memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Menyedihkan kalau pada akhirnya, perempuan tetap mencari tumpuan dari seorang lelaki kaya.&lt;br /&gt;Jika memang tuntutan hidup saat ini begitu besar, hingga setiap hari harus mengeluarkan puluhan ribu untuk memenuhinya, seharusnya masing-masing orang terpacu untuk lebih bekerja keras. Memutar otak bagaimana dia bisa memenuhinya dengan usahanya sendiri tentunya. Tanpa harus mengandalkan orang lain, apalagi sekedar suami kaya yang menurut saya itu jauh lebih beresiko. Namanya juga suami istri, bukan suatu hubungan yang tak terceraikan.&lt;br /&gt;Bukan berarti saya tidak percaya pada ikatan pernikahan. Justru karena saya sangat menghormati ikatan pernikahan. Tidak seharusnya pernikahan hanya dilandasi pada hitung-hitungan ekonomi saja.&lt;br /&gt;Kalau saya bisa memilih, lebih memilih lelaki pintar. Karena saya yakin dengan kepintarannya, dia sanggup bertahan hidup. &lt;br /&gt;Heh...&lt;br /&gt;Saya hanya berharap, tidak semua kaum muda terjangkit kemalasan modern ini. Saya yakin masih ada orang yang menghargai proses. Memahami bahwa setiap pencapaian harus disertai sebuah usaha yang juga luar biasa. Saya yakin, saya baru bisa memaknai apa itu sukses setelah saya gagal.&lt;br /&gt;Semangat!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3184428222108672515-3060383963190658981?l=celotehnana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://celotehnana.blogspot.com/feeds/3060383963190658981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/kemalasan-modern.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/3060383963190658981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3184428222108672515/posts/default/3060383963190658981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://celotehnana.blogspot.com/2008/05/kemalasan-modern.html' title='Kemalasan Modern'/><author><name>Catur Ratna Wulandari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05841534958658367566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_DcORNXUh6DI/SB79T4S6dtI/AAAAAAAAAAs/JogveSL8ZWg/S220/IMG_9573.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
