Terimakasih Cabanas!
Untuk pertama kalinya saya nonton pertandingan sepak bola secara langsung, dari awal sampai akhir. Persib Vs Sriwijaya FC, pertandingan uji coba.
Tidak tanggung-tanggung, saya melihatnya di belakang garis gawang, bersama para fotografer. Seharusnya wartawan tulis nonton di tempat VIP, tapi saya kebagian di lapangan. Tempat yang seharusnya diperuntukkan untuk kami ternyata tidak cukup strategis. Alhasil saya dan teman-teman yang lain mengekor fotografer.
Sembilan puluh menit lebih mata saya tidak lepas dari 22 pemain yang berlari-lari mengejar si kulit bundar. Liputan pertandingan sepak bola saya tidak boleh gagal! Pikir saya dalam hati. Saya harus bisa membawa lapangan ke halaman koran saya besok. Ingatan saya tidak pernah lepas dari buku Sindhunata.
Pertandingan dua babak ini ternyata lumayan lama. Cukup membuat saya ingin buang air kecil. Dengan posisi saya di dekat gawang, dan banyaknya penonton yang harus saya lewati untuk menuju kamar kecil, maka saya memutuskan untuk menunggu hingga pertandingan usai.
Gol semata wayang striker baru Persib Hilton Moreira membuat the double winner Sriwijaya FC kalah. Pertandingan selesai.
Tugas saya belum selesai. Saya masih harus ke ruang ganti oemain untuk mencari bahan-bahan tulisan saya.
(Oh saya butuh toilet!!!! Sabar... tahan...)
Begitu banyak yang akan saya mintai komentar, saya memilih menggunakan rekorder. Rekorder yang saya bawa adalah tape recorder model lama. Ukurannya cukup besar dibandingkan recorder digital yang sekarang sudah menjamur. Menurut pengalaman, saya tetap harus membawa notes untuk back up. Kalau-kalau ada kesalahan teknis, saya tidak kehilangan data.
Mulailah saya wawancara. Pertama Hilton Moreira, lalu Maman Abdurahman. Begitu Ketua Umum Persib Dada Rosada dan Ketua Hariannya Edi Siswandi masuk, saya wawancara mereka berdua. Lalu, Zaenal Arif. Beres!
(Setelah ini saya akan berlari ke toilet! tahan sedikit lagi...)
Tidak lama kemudian, Jaya Hartono mengumpulkan pemainnya. MEreka membentuk lingkaran. Rupanya Jaya Hartono memberi waktu bagi Dada Rosada untuk memberi selamat kepada pemain yang berhasil menang atas kesebelasan tamu.
(ooohhh.... ya sebentar lagi pasti bisa ke toilet...)
Dua orang wartawan berdiri di atas kursi untuk mengambil gambar. Saya pun ingin mengabadikannya.
Saya mengambil posisi berdiri di atas salah satu kursi. Rekorder di tangan kanan, saya pindahkan ke tangan kiri bergabung dengan notes dan bolpen. Sementara tangan kanan saya berusaha meraih kamera dari tas ransel yang saya gantung di dada.
(saya tidak tahan lagi... saya butuh toilet!!! Saya mau pipis!!!)
“Assalamu’alaikum wr. wb. Hari ini saya sangat bangga melihat permainan sore ini,” kata Dada Rosada.
(Tangan saya mulai berkeringat dingin.... tahan....)
Tiba-tiba, GUBRAKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Semua benda di genggaman tangan kiri saya melepaskan diri. Tape recorder jumbo itu terjatuh, mendarat di atas kursi.
Suasana mendadak hening.
Semua mata mengarah ke saya.
Sial! Kenapa jarum jam berhenti? Kenapa mereka semua diam dan memandang saya???
Saya tidak bergeming. Jantung saya berdegub kencang. Oh no!!! Saya tidak mampu mengangkat kepala. Saya bahkan tidak bergerak sedikit pun. Damn!
Seorang pemain bertubuh tinggi besar di depan saya berbalik. Dia membungkuk dan membereskan barang-barang saya yang berserakan. Dia rapikan notes saya, dia ambil bolpen dan rekorder yang ikut terjun bebas.
“Ini....” katanya sambil menyerahkan benda-benda itu kepada saya.
Saya mendongakkan kepala, ternyata Lorenzo Cabanas.
“Terima kasih,” hanya itu yang sanggup keluar dari mulut saya.
“Sama-sama,” kata Cabanas. Ia kembali memutar badannya.
Tanpa dikomando, jarum jam melanjutkan putarannya. Semua orang yang mematung kembali bergerak. Dada Rosada melanjutkan pidatonya.
Ya Tuhaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnn..................
Segera selesaikan sesi ruang ganti ini!!!!!!!!
Finish!!!
Keinginan saya buang air kecil mulai tertutup perasaan yang campur aduk. Tapi ini sudah tidak bisa ditunda lagi. Saya menuju toilet. Lega!!!!
Me VS BOLA
Besok, untuk pertama kalinya aku melihat pertandingan sepak bola secara langsung. Tidak hanya melihat, karena setelahnya aku harus menuliskannya, dan menyajikan kepada pembaca esok keesokan harinya.
... demam panggung...
Rasanya banyak sekali ketakutan di kepalaku. Mengingat, aku bukan penggila bola. Aku bahkan tidak pernah mengidolakan pemain bola atau tim manapun. Dulu sempat terkena euforia piala dunia, tapi ya lewat begitu saja. Tapi aku selalu ikut merayakan ketika Arema "Singo edan" berhasil jadi juara hehehe
Intinya, aku buta "BOLA".
Aku tahu, situasi semacam ini akan terjadi...
Sejak awal, aku paling "khawatir" masuk desk olah raga. Tapi mau tidak mau aku harus masuk di dalamnya. Desk ini menyenangkan. Sangat menyenangkan. Bahkan beberapa teman sampai bermuram durja ketika harus beranjak meninggalkannya.
Desk ini memang menyenangkan. Kecuali satu hal! BOLA!
Bagiku, itu menimbulkan ketakutan tersendiri.
Jauh-jauh hari, aku mengantisipasinya dengan mencari tahu dan membaca. Aku membaca trilogi catatan sepak bola Sindhunata.
Aku jatuh cinta pada tulisannya...
Dia begitu pintar meramu sebuah pertandingan bola menjadi sesuatu yang sangat menarik dengan cara yang cerdik.
Tapi justru setelah membaca ini, aku terobsesi...
Aku ingin membuat tulisan sebagus dia... Terlalu terburu-buru!
Dari jam terbang saja sudah jauh berbeda.
Dia bisa menulis sebagus itu juga bukan tiba-tiba kan?
Ayolah Nana...
Jangan harap bisa melompat melewati beberapa anak tangga.
Satu per satu, tapi mantap!!!
Smangat!!!!
(sepertinya aku jauh lebih dheg-dhegan dibandingkan pemain Sriwijaya ataupun Persib yang besok bertanding...)
