Mencari Bintang
Sampai hari ini, matahari tak pernah ingkar janji...
Ia selalu tiba pada waktunya dan pergi pada saatnya.
Bintang?
Sudah lama tak kulihat bintang.
Sepertinya bintang sudah ditelan oleh langit. Entah disembunyikan kemana.
Atau mungkin...
Bintang sedang enggan bersinar.
Lelah?
Mungkin tidak...
Hanya enggan...
Sepertinya sudah tidak ada yang ingin menikmati kilau bintang.
Lalu untuk apa menampakkan diri?
Biarkan saja...
Pada saatnya dia akan bersinar kembali...
Mungkin sampai langit merindukannya
Sampai langit membutuhkan kilaunya
Kami Berdoa
Bayi berusia empat bulan itu tampak tampan dan sehat. Kulitnya putih, tubuhnya gemuk. Ia sangat menikmati mengulum jari-jemarinya sendiri. Dia begitu nyaman berada di gendongan sang nenek yang duduk di bangku rumah makan itu. Rupanya ibunya sedang memesan makanan. Aku yang duduk di meja sebelah tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya. Kulemparkan senyum pada si kecil tampan itu. Dia membalas dengan tatapan malas. Ngantuk rupanya. Tak lama ia tertidur.
"Neng geulis sudah punya putra?," tanya sang nenek kepadaku.
"Belum, Bu," jawabku sambil tersenyum.
"Sudah lama?," katanya lagi.
"Belum ko, Bu. Masih baru," jawabku tanpa ingin bertanya lebih lanjut apa maksud pertanyaannya. Mungkin dia bertanya karena dia melihatku bersama seorang laki-laki yang dikiranya suamiku. Aku tidak peduli.
Bulu kudukku berdiri mendengar pertanyaan ibu tadi. Lebih tak habis pikir ketika mendengar jawabanku sendiri. Tapi entah mengapa ada pengharapan yang merindukan doa orang lain.
Lelakiku yang baru kembali dari toilet memasang muka bertanya-tanya karena melihatku tersenyum.
"Ada apa?," katanya lembut.
"Ditanyain ibu ini, sudah punya putra belum?," begitu kataku mengulangi ucapan nenek si bayi.
"Doain ya bu," begitu kata lelakiku. Jawaban yang tidak kuduga. Yang tak bisa kulupakan, wajahnya saat melontarkan jawaban itu. Matanya berbinar penuh harap. Badannya merunduk, menegaskan harapannya.
"Tapi saya lihat si eneng ini masih sangat muda. Seperti masih belasan," begitu timpal si nenek.
"Oh wajahnya aja, Bu. Saya 26, dia 24," jelas lelakiku.
"Oh... saya kira masih muda. Ya ya saya doakan," katanya menutup perbincangan kami.
Kami saling berpandangan. Mengamini semua yang kami bicarakan. Ada bahagia yang tiba2 berdesir. Ada harapan yang semakin tinggi. Semoga Tuhan mendengar.
Meski jalan yang membentang untuk mencapainya begitu panjang, terjal dan berliku, aku ingin bertahan. Entah sampai kapan. Biarkan kami memperjuangkannya Tuhan...
* Rumah Makan Bancakan, Minggu 5 Oktober 2008 11.00
Bintang dan Langitnya
Bintang...
Begitu dia memanggillku, katanya aku adalah bintangnya...
Kenapa "Bintang"? tanyaku waktu itu...
"Aku ingin kamu tetap bersinar. Indahmu bisa dinikmati semua orang," begitu jawabnya.
Meski di telingaku awalnya terdengar seperti merayu, aku suka... Tersipu aku dibuatnya. Kali ini benar-benar tersipu...
Malam itu, ia bilang ingin menjadi langit... karena ketika bintang tak bercahayapun sebenarnya langit tetap bisa melihat bintang. Meski manusia di bumi tak dapat melihat kilau bintang, langit tetap melihatnya karena bintang tetap berada dalam naungannya.
Indahnya...
Tak penting lagi aku bersinar atau tidak kan? Bagaimanapun keadaannya, bintang tetap butuh langitnya... hamparan cakrawala yang memeluknya...
Begitulah bintang dan langitnya bermula...
* untuk Langit-ku... karena bintang bukanlah apa-apa tanpa langitnya.
Takbiran dan FPI
Kupikir malam takbiran di mana pun akan sama dengan di kampungku. Ternyata tidak. Aku tidak berhenti geleng-geleng kepala kebingungan mendapati suasana malam takbiran di Kota Bandung.
Arak-arakan mobil pick up terbuka sarat penumpang memenuhi jalanan. Bikin macet. Mereka yang mayoritas masih ABG itu pada jejingkrakan. Teriak-teriak, bawa terompet, nari-nari, banyak juga yang buka baju.
Ini takbiran atau malam tahun baru?
Aku ingat rumah,
Setiap malam takbiran suasana begitu takzim... menunggu fajar Idul Fitri. Ada pawai, tapi pakai baju koko dan nggak bikin macet. Masih ada yang keliling bawa obor. Ya, mungkin karena rumahku terletak di kota kecil. Tidak seramai di sini.
Di kampung halamanku, banyak sekali anggota keluarganya yang merantau ke luar kota. Lebaran menjadi momen untuk pulang kampung, mudik. Kebanyakan sampai di rumah pada malam takbiran atau sehari sesudahnya.
Mana sempat kami berhura-hura di jalanan. Lebih baik berkumpul bersama keluarga yang sudah lama tidak dijumpai. Di kampungku pasti ada kenduri di malam takbiran, syukuran kecil-kecilan merayakan Idul Fitri. Tiap rumah membawa dua bungkus penganan untu kemudian saling ditukarkan. Begitu tradisi kami. Tidak ada acara turun ke jalan. Sedikit sekali yang masih melakukannya.
Aku terhenyak dengan suara klakson yang membahana,
Masih tidak percaya, ini takbiran atau tahun baru?
Aku menatap ke depan. Sebuah sepeda motor matic berpenumpang tiga laki-laki yang kutaksir baru berusia 13 tahun itu berjalan tidak karuan. Penumpang paling belakang membawa botol minuman keras. Oohhh!!!! Apa-apan ini?
Ternyata mereka bukan satu-satunya yang sedang mabuk. Di bak-bak terbuka yang mengangkut mereka yang katanya sedang takbir keliling itu juga sedang mabuk.
Pemabuk itu meneriakkan nama Tuhanku.
Kurang ajar! Mereka pikir ini yang diinginkan Tuhan?
Puasaku belum sempurna, tapi pun tak rela kalo Ramadhan dihabisi dengan cara seperti ini. Mereka meneriakkan nama Tuhanku dengan berjingkrak-jingkrak di jalanan tanpa pakaian.
Aku malu...
Tiba-tiba aku ingat FPI! yang katanya Front Pembela Islam! Mana mereka? Dimana mereka malam itu? yang pada hari-hari sbeelumnya selalu sibuk membasmi tempat-tempat hiburan yang tetap beroperasi, yang selalu sibuk mengurusi jalan hidup orang lain, yang tidak segan-segan menyakiti orang lain yang tak sepaham.
Dimana mereka malam itu?
Seharusnya mereka turun ke jalan dan memukuli mereka satu persatu yang sudah melecehak Tuhannya. Seharusnya mereka marah karena Idul Fitrinya disambut dengan cara seperti ini.
Aaaahhhh...
Tengah malam berlalu, mereka masih sibuk di jalanan.
Apa mereka bisa bangun pagi dan menjalankan Shalat Id? Ah belum tentu juga mereka ingin shalat Id...
Tiba-tiba ada yang berdesir...
Aku ingin pulang...
I