Latest News

...Jangan khawatir Bunda...

Posted by Catur Ratna Wulandari on Tuesday, May 27, 2008 , under | komentar (0)



Perempuan itu duduk di emperan toko yang sedang tutup. Ia memangku bayinya yang sedang menyusu. Di sampingnya, seorang laki-laki duduk sambil memegang tas kresek hitam. Mata dua orang dewasa itu melihat ke arah yang sama. Keduanya memandangi makhluk mungil yang berbalut selimut kuning. Keduanya tampak sambil berbicara, matanya berbinar.

Apa yang sedang mereka bicarakan? Sepertinya sesuatu yang membahagiakan.
Mungkin sedang membicarakan perkembangan buah hatinya. Mungkin juga sedang menimang-nimang si kecil yang berisi harapan di masa datang. Ah, keluarga kecil itu tampak bahagia.

"Mereka sedang mendekap masa depan," pikirku.

Membentuk keluarga. Bagaimana mengawalinya? Menikah! Begitukah?
Usiaku 24 tahun, bagiku itu angka yang terlalu dini untuk menikah. Anda boleh tidak setuju.
Banyak teman seumuran yang sudah menikah, ada juga yang sedang mempersiapkannya.
Salut bagi mereka karena telah mencapai fase itu.
Salut bagi mereka yang sudah bisa memutuskan untuk "menikah".
Aku?
Heh... mungkin masih terlalu egois untuk berpikir tentang itu.

Aku percaya, bahwa setiap fase kehidupan akan datang pada saatnya.
Maka, aku akan menjalaninya satu persatu.
Masa aku sekolah, maka aku berusaha mengumpulkan prestasi sebaik mungkin. Mencoba apa yang aku inginkan. Dan tentu saja, bersenang-senang sebisanya.
Masa aku kuliah, aku berusaha menengguk ilmu sebanyak-banyaknya. Mencari pengalaman dimana saja.
Masa aku bekerja, aku tetap berusaha menjadi apa yang aku inginkan. Mengejar apa yang aku cita-citakan.

Suatu saat, pasti akan ada saat ketika aku bisa berkata "Aku akan menikah".
Mungkin saat ini belum, tapi suatu hari bisa jadi saat bangun pagi aku berpikir "Ya aku akan menikah".
Mungkin aku hanya perlu menunggu seseorang yang bisa membuatku berpikir begitu.

Bundaku, jangan gelisah.... Bukan aku tak mau.

Kebangkitan Itu Kerja dan Penderitaan

Posted by Catur Ratna Wulandari on Wednesday, May 21, 2008 , under | komentar (0)



Beberapa hari ini saya memutar otak...
Saya ingin menulis sesuatu tepat pada peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Sayangnya, meskipun saya sudah berpikir keras, satu kalimat pun tidak bisa saya tulis.

Saya membaca beberapa tulisan tentang Kebangkita Nasional, banyak yang bernada pesimis, karena bagi mereka setelah seratus tahun juga tidak bisa menciptakan banyak perubahan. Masih banyak yang tidak puas. Saya kurang suka tulisan macam itu, menurut saya itu tidak solutif.

Lalu, suatu malam, saya melanjutkan membaca buku Putu Wijaya yang berjudul GORO-GORO, sebuah kumpulan sketsa dalam tabloid Tokoh, suplemen Bali Post. Sampailah saya pada halaman yang berjudul “KEBANGKITAN”. Tulisan ini untuk memperingati 93 tahun Kebangkitan Nasional, dan saya rasa masih relevan sampai sekarang. Usai membacanya, saya bergumam, “Inilah makna kebangkitan”.

Maka, saya ingin membaginya kepada semua orang yang entah secara sengaja atau tdak mampir ke halaman saya. Berikut adalah penggalan tulisan Putu Wijaya tersebut.
--
“Kamu tahu, setelah 93 tahun menggembar-gemborkan kebangkitan, ternyata hasilnya hanya seperti sekarang ini. Semuanya pada musuhan. Semuanya mengaku paling bener. Tarik urat leher dan ngeyel-ngeyelan kita memang paling bisa. Tapi giliran membangun, memelihara negara, tidak ada yang mampu!,” gerutu Pak Amat kepada istrinya usai menghadiri upara peringatan Kebangkita Nasional.

Bu Amat tidak menjawab.
“Kamu kok diam saja!” bentak Amat kemudian. “Apa kamu tidak sadar bahwa negara kita sedang mengalami krisi? Pemimpin-pemimpin kita sedang berkelahi? Dan rakyat selalu kena kibul?”

Bu Amat menggeleng.
“Aku tidak tahu, Pak. Mungkin betul begitu. Soalnya koran, televisi, dan para tetangga juga mengatakan begitu. Entahlah. Aku tiap hari sibuk di dapur, tidak terlalu sempat melihat negara. Kalau mencoba juga, pasti susah. Negara itu kan besar sekali. Bukan satu dua tempat. Bukan satu dua orang. Susahlah.”

“Makanya aku kasih tahu sekarang ini. Kita ternyata tidak pernah bangkit. Ngomong saja tentang kebangkitan. Prakteknya tidur terus. Mata kita terpejam. Dibuka juga tidak kelihatan apa-apa, karena kita sudah terbiasa dalam kegelapan. Kita keenakan tidur dan mimpi, tahu. Kita bangsa yang bermimpi!”

Bu Amat mengangguk.
“Habis, buat apa bangun, kalau mimpi lagi enak-enaknya?”
“Itu dia!” bentak Amat. “Kita sudah kena sesirep, lebih suka mimpi daripada terbangun. Lebih senang tidak sadar daripada bangkit. Ini harus diberantas, kalu tidak kita akan musnah!”
Bu Amat tak menjawab.

“Tadi waktu Bapak pergi aku sudah tidur,” kata Bu Amat mengalihkan pembicaraan dengan halus. “Waktu tidur, aku bermimpi, Pak. Mimpinya bagus sekali. Aku seperti bisa terbang. Aku terbang. Wah sedap. Kelihatan pemandangan yang indah. Setelah lama terbang aku sampai di sebuah tempat yang makmur. Banyak bunga, banyak buah, banyak makanan. Juga banyak emas dan permata dan uang. Boleh ambil sepuas-puasnya, asal bisa membawa. Aku senang sekali. Aku mau bawa pulang semuanya, sebanyak-banyaknya. Tapi, sesudah sempat aku kumpulkan banyak, tiba-tiba aku dengar bunyi Bajaj di depan rumah. Aku ingat Bapak sedang pergi. Bapak tidak bawa kunci. Anak-anak tidur semua. Jadi, aku harus bangun. Bangun berarti aku kehilangan barang-barang itu semua. Tapi, kalau tidak bangun, Bapak tidak akan kebagian pintu. Dan kalau aku bangun, aku akan kembali ke rumah kita ini. Rumah tua yang WC-nya mampet tiap bulan. Bocor, banyak kecoak. Rumah yang berantakan karena anak-anak kita semuanya manja, tidak ada yang doyan menyapu dan mengepel. Kalau bangun, berarti aku juga akan ingat utang-utang kita pada tetangga. Uang untuk bayar sekolah anak-anak belum ada. Ada keluarga sakit keras di kampung. Wah, seribu macam soal akan ingat. Tapi, kalau tidak bangun, Bapak bisa tidur semalaman di luar rumah. Akhirnya aku bangun. Aku tinggalkan mimpi yang indah itu. Untunglah aku bangun, kalau tidak, Bapak yang sedang frustasi ini kan tambah stres. Ayo masuk Pak.”

Amat terpesona, tapi ia merasa sudah tersindir. Seperti orang yang kecewa Amat berdiri. Istrinya tidak mengerti apa yang tadi sudah diceritakannya.

“Ayo masuk, Pak. Aku sudah sediakan wedang jahe, biar anget.”
Amat terpaksa masuk ke dalam rumah. Begitu masuk, ternyata rumah berantakan. Rupa-rupanya anak-anaknya sore tadi membawa kawan-kawannya, pesta, lalu pergi begitu saja.
“Lihat, kalau aku tidak bangun, aku tidak akan tahu rumah kita yang berantakan, Pak. Padahal, besok kita kan giliran menyelenggarakan arisan. Tetangga pada datang. Masakkita sambut mereka dengan berantakan begini. Miskin boleh miskin, tapi jangan berantakan. Ayo Pak, minum wedang jahenya. Kalau sudah, bantu aku mengatur. Besok kita repot semua, tidak akan ada waktu!”

Amat tercengang. Ia menghirup jahe. Enak sekali. Sementara istrinya mulai bekerja menata kamar.

“Kalau tidak bangun tadi, pasti gule yang aku rebus untuk besok, kering dan hangus. Untung aku bangun, Pak. Untung aku bangkit dari tempat tidur dan melihat semua ketidakberesan ini. Kalau aku tidur, bagaimana aku bisa melihat rumah kacau begini? Kalau tidak melihat, ya pasti tidak akan diatur. Ya tidak?”

Amat tiba-tiba merasa malu.
“Maksudmu kebangkitan itu tidak berarti bim salabim sukses, tapi justru melek, melihat segala kekuarangan. Kebangkitan itu kerja dan penderitaan. Begitu?”

Istri Amat tersenyum.
“Apa begitu maksudku?” katanya membalikkan kata-kata.

Bangsaku yang Kaya Raya

Posted by Catur Ratna Wulandari on Monday, May 12, 2008 , under | komentar (2)



Hari ini saya melihat ratusan orang mengantri minyak tanah. Di daerah Cihaurgelis Bandung.

Sebelumnya, saya melihat antrian orang membeli minyak tanah hanya di film G 30 S/PKI karya Arifin C. Noer. Sekarang, saya bisa melihatnya lebih sering. Saat distribusi minyak tanah dibatasi karena konversi gas elpiji, ratusan orang, bahkan ribuan orang di seluruh Indonesia mengantri minyak tanah. Di Bandung saja, waktu itu tidak sulit mencari antrian minyak. Karena di mana-mana juga ngantri.

Menjelang kenaikan BBM, katanya baru akan naik Juni nanti, beberapa antria juga sudah mulai kelihatan. Antrian ini karena barang yang dicari juga mulai langka. Minyak tanah mulai sulit dicari, elpiji juga begitu. Kalaupun ada, harganya gila-gilaan. Edan!

Seingat saya, negara saya, Indonesia yang saya cintai ini merupakan salah satu negara yang kaya raya. Sumber daya alamnya melipah. Tanahnya subur. Bukan hanya untuk ditanami, kandungan mineral di bawah tanahnya juga sanga besar. Rasanya aneh kalau sekarang melihat orang Indonesia antri minyak tanah.
Sumur minyak yang kita punya memangnya mampet dengan tiba-tiba? Oh ya saya lupa, harga minyak dunia kan sedang naik. Jadi wajar kalau harga dalam negeri juga ikut naik, baik BBM maupun minyak tanah.

Hemh...
Tetap saja aneh!
Kalau memang kita punya sumur minyak, harga minyak yang tinggi harusnya menguntungkan kita dong?! Mana ada pedagang yang paceklik ketika dagangannya sedang naik harganya?!

Ah ya.. saya lupa! Kita memang punya minyak. Bumi Indonesia ini memang mengandung banyak energi fosil. Tapi yang bikin sumurnya bukan kita. Bukan Bangsa Indonesia!
Katanya dulu kita tidak punya teknologi untuk membuat sumur-sumur itu, makanya pemerintah waktu itu mengijinkan orang asing yang bikin sumurnya. Karena mereka yang bikin, hasilnya juga buat mereka dong! Cukuplah Indonesia dikasih bagian seberapa persennya lah.

Siapa yang bodoh?!
Ah bukan soal lagi.. toh semuanya sudah berlarut-larut. Sudah terlanjur. Pemerintah sudah kehilangan taringnya untuk mengusir bangsa-bangsa asing yang mengruk minyak kita.
Yang kadang tampak ganjil di kepala saya, banyak sekali sarjana kita yang pintar-pintar itu, merasa bangga ketika menjadi bagian dari kerajaan asing yang turut mengeruk minyak kita.

Kasarnya nih, mereka mengeruk minyak kita dengan tangan-tangan orang kita sendiri.
Mungkin perlu dimaklumi karena di sana mereka bisa mengumpulkan uang yang banyak. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang bisa bangsa kita berikan. Lagi-lagi memenangkan urusan perut.
Entah bagaimana mengembalikan kejayaan bangsa saya -yang juga bangsa Anda- ini! Bangsa saya bangsa yang kaya, tidak seharusnya dia hidup susah! Tidak pantas rasanya kalau rakyatnya hidup miskin!

Marah!!!!
Tapi entah siapa yang pantas menerima kemarahan saya ini.
Tiba-tiba saya teringat kata Mahatma Gandhi, “Kemiskinan adalah bentuk terburuk dari kekerasan”.
oh...
Betapa aku mencintai bangsaku yang karut marut ini!

Mengatur Manusia

Posted by Catur Ratna Wulandari on Saturday, May 10, 2008 , under | komentar (0)



Sebagai pendatang baru di tanah Priangan, ada beberapa fakta tentang Jabar yang sangat memprihatinkan. Termasuk 10 besar provinsi di Indonesia dengan angka kematian ibu melahirkan yang tinggi. Angka human trafficking Jabar juga yang tertinggi di antara provinsi yang lain. Tingkat urbanisasi yang masih tinggi. Kota besar di Jabar, seperti Bandung, setiap harinya dipadati oleh sedikitnya 3 juta orang pada siang hari. Tingkat kemiskinan Jabar semakin hari bukannya semakin berkurang, justru semakin bertambah. Padahal Dany Setiawan mengatakan selama ia menjabat sebagai Gubernur Jabar nilai investasi Jabar tumbuh drastis. Bahkan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Jabar melebihi LPE nasional. Logikanya. Anehnya, itu tidak membantu kemiskinan di Jabar. Angka tetaplah angka.

Kalau ditarik mundur, menurut saya akar permasalahan dari semua permasalahan ini adalah jumlah penduduk yang tidak terkendali. Data terakhir menyebutkan, jumlah penduduk Jabar mencapai 41 juta jiwa. Fantastis!

Dalam satu kesempatan, saya pernah berbincang dengan Pak Us Tiarsa mengenai kependudukan. Pak Us ini memang mempunyai perhatian yang lebih pada masalah kependudukan di Jabar. Maklum saja, selain kesibukannya sebagai pemimpin redaksi di stasiun TV lokal Bandung, beliau juga aktif sebagai Ketua Umum Koalisi Mitra Peduli Kependudukan (Milik) Jabar.

Menurut Pak Us, Jawa Barat membutuhkan manajemen kependudukan untuk mengelola penduduknya. Sebenarnya angka kelahiran di Jabar setiap tahunnya sudah mengalami penurunan. Tetapi tidak dengan laju pertumbuhan penduduknya. Faktor migrasinya tidak terkendali.

Jumlah penduduk yang besar selama ini hanya menjadi potensi pasar, tetapi tidak diikuti dengan potensi produksi. Ibaratnya, Jabar seringkali cuma dijadikan tempat berdagang. Belum mampu membuat barang dagangan sendiri.

Maksudnya Pak Us, keruwetanini bisa dikurangi dengan memperbaiki potensi manusianya. Penduduknya harus dipintarkan, sehingga mampu bersaing dengan pendatang-pendatang. Seringkali pabrik-pabrik besar yang beroperasi di Jabar tidak menggunakan tenaga kerja yang ada di sekitarnya dengan alasan kualitasnya kurang.

Apalagi jaman sekarang, setiap orang harus siap bersaing dengan semua orang dari berbagai penjuru dunia. Mau tidak mau, suka tidak suka, persaingan akan semakin ketat. Jadi, masing-masing harus mempunyai kemampuan untuk bertahan. Pendidikan menjadi jalan keluar untuk mengup-grade kemampuan.

Jangan menyempitkan penidikan terbatas pada bangku sekolah yang dibatasi ruang kelas. Pendidikan bisa berlangsung dengan cara yang berbeda. Lebih bagus lagi, kalau nanti hasilnya adalah orang-orang yang bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Jadi tidak perlu menambah jumlah pengangguran.

Kalau setiap orang mempunyai kemampuan dan daya saing, seharusnya perekonomian masyarakat juga akan membaik. Pengangguran dan kemiskinan bisa dikurangi. Ga perlu lagi ada korban-korban trafficking yang terjebak katika mencari pekerjaan. Tidak perlu lagi ada pernikahan dini, yang bagi sebagian masyarakat menjadi jalan keluar masalah ekonominya. Pernikahan dini ini yang menjadi penyebab utama kematian ibu melahirkan. Mereka melahirkan sebelum organ reproduksinya tumbuh sempurna.

Susahnya mengatur manusia...

Ketika Merah Putih Tak Lagi Berkibar

Posted by Catur Ratna Wulandari on Friday, May 9, 2008 , under | komentar (0)



Sang Saka Merah Putih tak lagi berkibar di SDN 2 Cimarel. Betapa tidak, setelah bangunannya roboh diterpa angin dan gempa pada Agustus silam, murid-murid tidak lagi bisa mengadakan upacara bendera. Seluruh bangunan kelas roboh, tiang bendera ambruk. Kini yang tersisa adalah puing-puing bangunan. Bagaimanapun semangat murid-muridnya tak bisa dipadamkan. Di atas puing-puing reruntuhan, mereka tetap belajar.
“Sejak sekolah rusak sudah tidak pernah upacara lagi. Olah raga juga cuma main tali,” kata Dewi (11), siswa kelas 5. Bagi Dewi dan murid lainnya, yang terpenting adalah bisa tetap belajar di sekolah. “Sedih sekolahnya rusak, tapi kan harus tetap sekolah,” katanya.
Sekolah yang terletak di Kp. Babakan Jampang Desa Cibitung Kec. Rongga Kab. Bandung Barat ini pada awalnya adalah sekolah yang didirikan atas prakarsa masyarakat setempat. “Sekolah yang ada letaknya sangat jauh. Jadi masyarakat meminta didirikan sekolah,” tutur Kuswan (36), salah satu guru yang telah mengabdi selama 13 tahun di SDN 2 Cimarele.
“Saat kami camping memperingati Hari Pramuka, malamnya ada angin besar dan gempa yang menghancurkan sekolah kami,” kata Kuswan. Setelah kejadian itu, murid-murid tidak lagi dapat belajar di dalam kelas. Sebuah lapak seluas 5x20 meter yang terbuat dari kayu dan genteng seadanya menjadi ruang kelas yang baru.
Lima papan tulis dipasang berderet dengan jarak tidak lebih dari 1 meter. Papan tulis itulah yang menjadi batas antara kelas yang satu dan kelas yang lain. “Kelas 1 dan 2 bergantian. Pagi untuk kelas 1, mulai jam 10 baru untuk kelas 2,” kata Neneng, satu dari empat guru yang mengajar di sekolah ini.
Tak ada lantai marmer, tak ada dinding, atap seadanya. Jika hujan datang, atapnya tak sanggup menghalau air yang masuk melalui sela-sela genteng. Baju seragam dan buku pelajaran basah karenanya. “Tapi pelajaran tidak boleh berhenti, apapun keadaannya,” ujar Kuswan. Keadaan ini pula yang membuat siswa lebih nyaman memakai sandal jepit dibandingkan sepatu. “Kalau hujan repot,” kata Neneng.
Sekolah Sejauh mata memandang terlihat perbukitan yang terhampar. Tidak mudah menjangkau sekolah ini. “Tiap hari saya jalan kaki. Ya sekitar 1,5 jam perjalanan,” tutur Kuswan.
Jalanan yang menanjak, berbatu, dan licin tak menyurutkan tekad para guru dan murid untuk berangkat ke sekolah. “Saya senang sekolah. Berangkat pagi-pagi, sambil main-main sama teman-teman,” kata Heri (11), siswa kelas 5.
Kuswan yang belum genap setahun diangkat menjadi CPNS (Calin Pegawai Negeri Sipil) ini menekankan pada murid-muridnya agar selalu mengedepankan sekolah. “Apapun keadaannya, jangan sampai menyurutkan semangat belajar,” katanya.
Sejak bangunan sekolah roboh, belum ada usaha dari pemerintah untuk memperbaikinya. “Inginnya sekolahnya diperbaiki, biar tidak kehujanan,” harap Heri. Harapan ini juga menjadi harapan ke-175 murid sekolah ini.
Angin boleh merobohkan bangunan, tapi tidak dengan tekad para murid. “Saya ingin jadi dokter,” kata Dewi.***

Balada Angkot

Posted by Catur Ratna Wulandari on Thursday, May 8, 2008 , under | komentar (1)



Apakah Anda pengguna angkutan umum di Bandung?
Sebulan pertama di bandung, saya adalah pengangkot. Kemana-mana anaik angkot. Sudah pernanh ngerasain sebalnya ngetem. Ngerasain betapa setiap tikungan berhenti lama untuk menunggu penumpang. Kalau menurut pendapat saya, Bandung sudah kelebihan angkot.

Sedikit sekali saya meya menemui angkot yang terisi penuh. Paling-paling terisi 6 orang saja. Kalaupun ada yang penuh, biasanya itu setelah melalui pe"ngetem"an yang cukup membuat penumpang dongkol. Di sepanjang jalan, banyak sekali angkot kosong berhenti menunggu penumpang. Banyak lahir tempat ngetem dadakan di sudut jalan. Tampaknya mencari penumpang sekarang ini sangat susah.

TEmpo hari sempat main-main ke Dinas Perhubungan (Dishub) ngobrolin tentang angkot ini. Baik Dishub Kota Bandung maupun Jabar, sepakat bahwa jumlah angkot yang ada sekarang masih berada di bawah kuota angkot yang telah ditetapkan.

Aku berani bertaruh, kuota itu pasti tidak pernah berubah sejak ditetapkan. Kuota itu sudah ditetapkan sejak bertahun-tahun yang lalu. Saat jalan raya belum dipenuhi oleh sepeda motor dan mobil. Sebelum suku bunga turun, sehingga dengan mudah orang memperoleh kredit kendaraan. Sekarang ini, dengan uang muka yang tidak lebih dari Rp 1 juta, sepeda motor sudah bisa dibawa pulang. Cicilan ringan, bunga rendah. Tidak ada lagi yang menghalangi orang punya sepeda motor, ya kecuali kenaikan BBM. Itu juga bisa diatasi dengan kendaraan yang katanya hemat BBM. Kalau sudah begitu, mana ada yang mau naik angkot?

"Penumpang sekarang sepi," begitu kata Pak Asep, pemilik 5 angkot jurusan Cimahi-Leuwipanjang. Waktu itu saya menyewa angkotnya untuk pindahan kos dari daerah Caringin ke Buah Batu. Dia pemilik, tapi sekali waktu dia juga turun tangan untuk menyupiri angkotnya sendiri.

Bisnis angkutan umum sudah digekutinya puluhan tahun. "Dulu saya punya yang model isuzu elf. Kendaraan besar, untuk jurusan jarak jauh," tuturnya. Mungkin yang dia maksud angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP). Dia beralih menjadi pengusaha angkot karena penumpang AKDP sudah sepi. Belum lagi biaya perawatan yang sangat mahal. Akhirnya dia menjual seluruh isuzu elf nya dan mengganti dengan angkot.

Ternyata, angkot pun sudah tak lagi jadi primadona. "Sekarang semua punya sepeda motor," keluh Asep. Pendapatan dari angkot ternyata juga tidak cukup untuk membiayai BBM dan perawatannya. Harga BBM tidak pernah turun, spare part selalu ikut naik kejar-kejaran dengan harga dolar dan BBM. Tidak heran kalau tidak ada angkot yang nyaman, lha wong biaya untuk perawatan saja tidak ada. Dan yang pasti, pendapatan sopir angkot berkurang.

Mendengar itu, saya yang selalu "memusuhi" angkot jadi berpikir kembali. Sebelumnya saya memang jengkel sekali dengan angkot-angkot di Bandung ini, di kota mana pun sebenarnya. Mereka sering sekali berhenti tanpa memberi tanda. Menaikkan dan menurunkan penumpang sering di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Sekali motor saya "Si Billy" beradu dengan angkot. Badan saya memar-memar dan Billy harus rawat inap di bengkel. Habisnya lumayan banyak juga.

Keruwetan-keruwetan yang ditimbulkan angkot membuat saya memimpikan sebuah sarana angkutan umum yang massal, nyaman, rapi dan ramah lingkungan. Bukan busway ya!!!! Busway menurut saya tidak didesain untuk kota seperti Bandung yang jalannya sempit-sempit. Bentuknya bagaimana, sepertinya ahli transportasi lebih jago. Yang ada di kepala saya, ANGKOT HARUS DIKURANGI! DITERTIBKAN!

Mendengar cerita Pak Asep, saya terdiam.
Kalau angkot dikurangi, bagaimana nasibnya? Keluarganya? Anaknya? Ada berapa banyak Pak Asep di Bandung ini?

Urusan perut tidak pernah mudah. Penyelesaiannya tidak bisa sembarangan. Salah langkah sedikit, bisa membuat orang ngamuk! Masalah perut, nyawa taruhannya!

Tapi saya yakin pasti ada jalan keluarnya!
Saya tidak punya kapasitas untuk bisa merumuskan formula yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. Dan tentunya ada pihak yang punya kewenangan dan keahlian untuk mencari solusi.

Heh...
Semoga mereka-mereka itu tidak sedang menutup mata. Tidak sedang pura-pura tidak melihat keadaan ini. Atau sedang disibukkan dengan urusan yang tidak penting. Atau mereka sama bingungnya dengan saya? Bukankah mereka dibayar untuk menyelesaikan persoalan yang seperti ini....

--- AKU TAKUT ---

Posted by Catur Ratna Wulandari on Tuesday, May 6, 2008 , under | komentar (3)



“Hari ini dapat liputan apa ajaNa? Besok ada liputan apa? Jangan lupa kasih tahu aku ya....”
Hampir setiap hari aku mendengar kalimat itu dari seorang teman. BOSAAAAN!!!!!

Temanku yang satu ini memang sedikit ajaib. Dia tidak pernah bosan mengomentari pekerjaanku. Liputanku, apa saja yang kubuat hari ini, berita apa yang dimuat hari ini, dan apa yang akan kulakukan besok. Tampaknya semua itu hal yang penting baginya.

Temanku tersayang,
dimuat atau tidaknya berita kita, bagiku bukanlah sebuah akhir. Bukanlah sebuah prestasi yang harus dirayakan. Walapun memang sah-sah saja jika itu dipandang sebagai sesuatu yang membanggakan, mengingat kita yang masih bau kencur.

Menjadi jurnalis, bagiku seperti pekerjaan yang tidak pernah membuat otakku berhenti berpikir. Aku mengawali hari dengan berpikir, apa yang akan kubuat hari ini. Lalu, bagaimana aku akan meramunya. Lalu, bagaimana menulisnya. Baru setelah itu diserahkan kepada bos! Untuk dinilai menurut kaca matanya, apakah laik muat atau tidak.

Kalau kami (aku dan redaktur) sedang sepaham, maka aku akan mendapati pekerjaanku tercetak di surat kabar kami yang biasa dijual seharga rp 2500 per eksemplar. Kalau apa yang kutulis tidak ada di sana, bisa jadi itu tidak cukup penting untuk diketahui orang. Bisa jadi karena alasan yang lain.

Ketika apa yang kutulis dimuat. Aku tahu itu bukan akhir! Itu bukan sebuah garis finish dari pekerjaanku. Aku masih ingat ketika pagi-pagi aku terbangun karena telp dari kantor yang mengabarkan ada seorang nara sumber yang ke kantor. Katanya dia keberatan dengan tulisanku. Padahal tidak ada yang salah dengan itu. Mungkin karena malu, “borok” miliknya sebagian terungkap.Padahal baru sebagian kecil, tapi seolah-olah aku telah melakukan kejahatan dengan menuliskannya yang berarti membuat khalayak mengetahuinya.Ah jangankan begitu. Penulisan nama nara sumber yang salah saja bisa berbuntut panjang.

Pengalamanku seperti itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan para seniorku. Ada yang diancam akan dibunuh, ada yang diteror dengan berbagai cara, minimal didamprat oleh pihak-pihak yang merasa kecewa. Semuanya karena tulisan! Rupanya tulisan sepadan dengan senjata tajam. Ketika ada orang yang kecewa dengan tulisan, mereka sanggup memainkan senjata untuk membalasnya.

Tidak semuanya seperti itu. Ada juga yang membahagiakan. Tulisan tentang sekolah roboh di Rongga, Kabupaten Bandung Barat, hasil duet dengan senior beberapabulan yang lalu rupanya membuat pemerintah malu dan segera bertindak cepat untuk memperbaikinya. Atau tentang guru sederhana yang menyundakan nama jalan di Bandung. Ternyata menarik orang untuk belajar Aksara Sunda. Kadang orang harus digerakkan melalui tulisan.

Intinya, ada tangung jawab yang mengikuti setiap tulisan. Apa yang masyarakat dapatkan setelah membaca tulisan itu. Apa pengaruh tulisan kita bagi masyarakat, bagi kebijakan pemerintah, bagi pembaca.

Ini yang kusuka dari profesiku. Aku mempunyai kesempatan untuk merubah sesuatu. Begitu banyak pintu yang terbuka, menjadi jahat, atau menjadi baik. Itu pilihan kita, di tangan kita.
Semua itu membutuhkan tanggung jawab yang besar.
Tulisanku belum ada apa-apanya. Belum ada yang luar biasa.

Aku takut....
Aku takut menjadi seseorang tanpa kualitas. Maka aku pun akan menghasilkan tulisan yang tidak berkualitas.
Aku tidak takut ketika mereka tidak memuat beritaku. Aku lebih takut jika pembaca harus membaca sebuah bualan semata.

Aku ingat nasehat seorang senior: “Tulislah berita dengan baik. Kalau semua wartawan menulis berita dengan baik, maka redaktur tidak akan mempunyai pilihan berita yang buruk. Apapun yang akan dimuat, semuanya adalah berita berkualitas”.
Aku setuju.

Kemalasan Modern

Posted by Catur Ratna Wulandari on , under | komentar (0)



Senin, 5 Mei 2008
11.15 pm

Suatu hari, ketika saya dan beberapa rekan sedang menunggu pertemuan antara pimpinan dewan dengan warga Saritem, salah satu dari kami, seorang mahasiswi yang sedang magang di radio melontarkan kalimat yang berani. Kurang lebih waktu itu dia bilang begini, “Aku nanti mau mencari suami yang kaya, yang bisa membiayai keperluanku. Setelah kuhitung-hitung, rata-rata sehari aku butuh Rp 50 ribu. Buat makan, jajan, jalan-jalan, ke salon. bla bla bla bla”.
Saya sebut itu, pernyataan yang berani. Karena sepertinya, kalimat itu juga ada di kepala beberapa orang, bahkan mungkin banyak orang. Tapi, tidak semua bisa mengungkapkannya. Ada yang malu-malu mengakui bahwa itulah yang diinginkan dari seorang pria.
Saya sendiri tidak tau pasti, apakah dia mengatakannya secara sadar. Apakah benar-benar itu yang diinginkannya, atau itu sekedar ungkapan yang menghibur kami, para kuli tinta, yang mulai kelelahan.
Saat itu, kami tertawa lebar mendengar apa yang dia ucapkan. Sebagian meledeknya habis-habisan. Aku pun ikut tertawa. Tapi dalam kepalaku ada tanda tanya besar. Benarkah ini yang ada di kepala seorang perempuan cantik dan terpelajar ini? Kira-kira ada berapa banyak yang sepemikiran dengannya?
Hemh...
Apa ini yang disebut orang dengan realistis?
Banyak nasehat yang bilang, bahwa menikah tidak hanya bermodal cinta. Inikah yang dimaksud?
Semoga tidak!
Ini lebih seperti sebuah potret kemalasan yang menjangkiti manusia modern belakangan. Semuanya ingin hidup enak tanpa peluh yang membasahi tubuh. Banyak yang ingin segera sampai di puncak tanpa mau melewati pendakian yang melelahkan. Mungkin karena banyak orang yang sudah lelah. Bosan dengan kelambanan.
Lihat saja, betapa semua yang menjanjikan “kecepatan” selalu digandrungi orang. Kontes-kontes yang berlabel “from zero to hero” atau “from nothing to something” menjamur di semua stasiun tv. Begitu banyak yang ingin sukses dengan instan!
Mau contoh yang lebih sederhana?
Saya yakin, Indofood telah meraup untung yang fantastis dari penjualan mie instannya. Apalagi kalau bukan karena orang memang sudah tidak mau repot.
Kembali ke persoalan paling atas, tentang “mencari suami kaya”. Tanpa bermaksud membenarkan atau menyalahkan. Tapi saya pikir, Ibu Kartini akan menangis di kuburnya ketika mendengar kalimat itu. Kartini dan banyak pejuang wanita lainnya mati-matian membuka kesempatan bagi perempuan untuk menjadi apapun yang dia mau. Memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Menyedihkan kalau pada akhirnya, perempuan tetap mencari tumpuan dari seorang lelaki kaya.
Jika memang tuntutan hidup saat ini begitu besar, hingga setiap hari harus mengeluarkan puluhan ribu untuk memenuhinya, seharusnya masing-masing orang terpacu untuk lebih bekerja keras. Memutar otak bagaimana dia bisa memenuhinya dengan usahanya sendiri tentunya. Tanpa harus mengandalkan orang lain, apalagi sekedar suami kaya yang menurut saya itu jauh lebih beresiko. Namanya juga suami istri, bukan suatu hubungan yang tak terceraikan.
Bukan berarti saya tidak percaya pada ikatan pernikahan. Justru karena saya sangat menghormati ikatan pernikahan. Tidak seharusnya pernikahan hanya dilandasi pada hitung-hitungan ekonomi saja.
Kalau saya bisa memilih, lebih memilih lelaki pintar. Karena saya yakin dengan kepintarannya, dia sanggup bertahan hidup.
Heh...
Saya hanya berharap, tidak semua kaum muda terjangkit kemalasan modern ini. Saya yakin masih ada orang yang menghargai proses. Memahami bahwa setiap pencapaian harus disertai sebuah usaha yang juga luar biasa. Saya yakin, saya baru bisa memaknai apa itu sukses setelah saya gagal.
Semangat!!!